Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 26 Februari 2018 | 06:47 WIB
 

Daya Beli Seret, Sri Mulyani akan Jinakkan Inflasi

Oleh : M Fadil Djailani | Selasa, 6 Februari 2018 | 17:01 WIB
Daya Beli Seret, Sri Mulyani akan Jinakkan Inflasi
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bilang penyebab lambannya pertumbuhan konsumsi dikarenakan laju inflasi yang sedikit tinggi.

"Kalau kita lihat penyebabnya inflasi di 2017 barangkali yang dilihat sebagai salah satu faktor mungkin pembelian atau dalam hal ini daya beli masyarakat," kata Sri Mulyani di Kantor Kemenko Kemaritiman Jakarta, Selasa (6/2/2018).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga memperlihatkan stagnasi laju pertumbuhan konsumsi masyarakat di level 4,95% sepanjang tahun 2017 atau melambat 0,05% dbandingkan tahun 2016 yang tumbuh 5,01%. Hal ini mencerminkan daya beli masyarakat Indonesia saat ini sedang lesu, banyaknya toko-toko ritel yang tutup sepanjang 2017 menjadi bukti bahwa memang masyarakat memilih berhemat.

Maka dari itu, kata Sri Mulyani, pemerintah terus bertekad menjaga laju inflasi serendah-rendah mungkin agar daya beli bisa naik. "Jadi tetap pesannya sama tetap menjaga daya beli masyarakat melalui inflasi yang rendah itu penting sekali," katanya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menambahkan untuk meningkatkan daya beli, pemerintah akan terus mengguyur masyarakat dengan berbagai bantuan sosial sepanjang tahun 2018 ini.

"Jumlahnya cukup besar, meningkat lebih banyak seperti PKH (program keluarga harapan) yang dinaikkan sampai 10 juta keluarga itu diharapkan bisa menimbulkan daya beli yang tengah, tetapi pada level menengah atas sangat dipengaruhi lingkungan confidence terhadap keseluruhan perekonomian," katanya.

Melihat data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru, tingkat konsumsi rumah tangga berada di level 4,95% di 2017. Angka ini melambat jika dibandingkan dengan tahun 2016 yang tumbuh 5,01%.

Lambatnya pertumbuhan konsumsi masyarakat lebih disebabkan oleh iritnya pengeluaran yang dilakukan oleh kelompok menengah atas, sehingga sedikit menggerus konsumsi masyarakat ke level 4,95%.

Melambatnya konsumsi rumah tangga juga terjadi di kuartal IV 2017 yang berada di level 4,97% dibanding dengan kuartal IV 2016 yang sebesar 4,99%.

Konsumsi rumah tangga memiliki kontribusi yang paling tinggi dalam struktur pertumbuhan ekonomi, yakni sebesar 56,13%, disusul oleh PMTB atau investasi sebesar 32,16%, lalu ekspor sebesar 20,37%.

Ekonomi Indonesia sepanjang 2017 hanya mampu tumbuh sebesar 5,07% angka pertumbuhan tersebut lebih kecil dibandingkan target pemerintah dalam APBN-P 2017 yang sebesar 5,2%. [hid]

Komentar

 
Embed Widget

x