Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 20 Juni 2018 | 20:15 WIB
 

Daya Beli 2017 Jelas Masih Lesu, Pengusaha Setuju

Oleh : M Fadil Djailani | Rabu, 7 Februari 2018 | 11:15 WIB
Daya Beli 2017 Jelas Masih Lesu, Pengusaha Setuju
Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani dengan Ketua Umum Apindo Sumut, Parlindungan Purba - (Foto: inilahcom/Fadil Dj)

INILAHCOM, Jakarta - Sepanjang 2017, daya beli masyarakat masih lesu. Khususnya dari golongan menengah ke bawah. Rupanya, hal itu sudah diprediksi pengusaha.

"Memang di tahun 2017 terjadi tren pelemahan daya beli. Kita sudah perkirakan. Ada 2 hal, ada tren pelemahan daya beli dan kedua menyangkut masalah persepsi arah ekonomi," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (7/2/2018).

Hariyadi mengungkapkan, akibat kelesuan konsumsi masyarakat ini, banyak dari para perusahaan yang melakukan efisiensi dengan cara melakukan pemutusan hubungan kerja.

"Banyak perusahaan yang melakukan perampingan karyawan. Sebagian kelas menengah memandang pada kondisi yang seperti unsecure sehingga mereka tidak melakukan spending. Itu yang terjadi di 2017 ditambah ada beberapa sektor karena masalah kelas menengah enggk spending," katanya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru mengungkapkan, tingkat konsumsi rumah tangga berada di level 4,95% sepanjang 2017. Angka ini melambat jika dibandingkan dengan 2016 yang tumbuh 5,01%.

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mengungkapkan lambatnya pertumbuhan konsumsi masyarakat lebih disebabkan oleh iritnya pengeluaran yang dilakukan oleh kelompok menengah atas, sehingga sedikit menggerus konsumsi masyarakat ke level 4,95%.

"Bisa engga capai di atas 5% (konsumsi masyarakat) lagi, menurut saya bisa. Sejak triwulan II tahun ini, persentase pendapatan yang ditabung meningkat, artinya kelempok menengah keatas menahan sebagian belanja. Karena itu pendapatan yang di konsumsi menjadi turun," papar Kecuk di Kantornya, Jakarta, Senin (5/2/2018).

Melambatnya konsumsi rumah tangga juga terjadi di kuartal IV 2017 yang berada di level 4,97% dibanding dengan kuartal IV 2016 yang sebesar 4,99%.

"Kalau dibanding triwulan III-2017 lebih tinggi, tapi dibanding triwulan IV-2016 4,99% memang sedikit terlambat di sana. Semuanya tumbuh tapi ada yang tumbuh tinggi dan ada yang tumbuh lambat," katanya.

Kecuk bilang untuk sektor makanan dan minuman (mamin) terjadi perlambatan konsumsi sebesar 5,24% dibanding 2016 yang sebesar 5,34%. Lalu komponen pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya juga mengalami perlambatan pertumbuhan dari 3,10% atau melambat dibandingkan 2016 yang sebesar 3,29%.

Tak hanya itu, komponen perumahan dan perlengkapan rumah tangga juga sami mawon data BPS terlihat secara kumulatif sektor ini hanya mampu tumbuh 4,26%, melambat dibanding pertumbuhan tahun 2016 yang sebesar 4,60%. Pertumbuhan konsumsi di komponen transportasi dan komunikasi juga melambat dari 5,32% pada 2016 menjadi 5,30% pada 2017.

Namun untuk sektor restoran dan hotel konsumsinya mengalami kenaikan ke level 5,53% pada 2017 dibandingkan dengan 2016 yang sebesar 5,40%, dan juga sektor kesehatan dan pendidikan yang tumbuh ke level 5,59% jika dibandingkan pada 2016 sebesar 5,34%.

"Kita berharap konsumsi rumah tangga makin bagus, syaratnya daya beli harus terjaga. Dan supaya daya beli terjaga tingkat inflasi harus terkendali," kata Kecuk.

Konsumsi rumah tangga memiliki kontribusi yang paling tinggi dalam struktur pertumbuhan ekonomi, yakni sebesar 56,13%, disusul oleh PMTB atau investasi sebesar 32,16%, lalu ekspor sebesar 20,37%.

Asal tahu saja, ekonomi Indonesia sepanjang 2017 hanya mampu tumbuh sebesar 5,07% angka pertumbuhan tersebut lebih kecil dibandingkan target pemerintah dalam APBN-P 2017 yang sebesar 5,2%. [ipe]

Komentar

 
x