Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 16 Agustus 2018 | 23:05 WIB

INDEF: Tergelincirnya Investasi di Tahun Politik

Oleh : - | Kamis, 8 Februari 2018 | 12:50 WIB
INDEF: Tergelincirnya Investasi di Tahun Politik
Direktur Eksekutif INDEF, Enny Sri Hartati - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Di tengah membuncahnya optimisme perekonomian di 2018 yang disebut sebagai tahun politik, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) malah sebaliknya. Porsi investasi mengkhawatirkan.

Direktur Eksekutif INDEF, Enny Sri Hartati, menyangsikan adanya kabar baik sektor investasi di Indonesia pada 2018. "Kalau ingin melihat realisasi investasi dan konsumsi rumah tangga, biasanya panduan yang utama adalah ITB dan ITK," ujar Enny dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (7/2/2018), terkait posisi Indeks Tendesi Bisnis (ITB) dan Indeks Tendensi Konsumen (ITK) di Indonesia.

Ia menilai, tahun politik mengandung kendala yang krusial di sektor penanaman modal (investasi). Karena menyangkut sikap investor yang cenderung menunggu kepastian terlebih dahulu, alias wait and see.

Lalu, ada apa dengan ITB? Dalam hal ini, INDEF mencatat adanya penurunan ITB di kuartal IV-2017 dari 112,39 menjadi 111,02. Realitas ini, menurut Enny, menunjukkan bahwa optimisme para pelaku bisnis, kian menurun.

Nah, komponen ITB yang menurun di antaranya adalah penggunaan kapasitas usaha dan rata-rata jumlah kerja. Dua komponen tersebut, menggambarkan adanya kontraksi dari penambahan tenaga kerja di 2017 dan 2018.

Selanjutnya, INDEF memerkiraan bahwa ITB kuartal I-2018 akan turun hingga 108,6. Bahkan perkiraan itu bisa lebih rendah lagi, apabila pebisnis benar-benar memilih untuk menunggu, karena ketidakpastian yang ditimbulkan di tahun politik.

Selain itu, Enny memandang, peristiwa besar di 2018, seperti Asian Games, pemilihan umum kepala daerah (pilkada) serentak serta pertemuan tahunan Bank Dunia (World Bank/WB) maupun Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) di Bali, hanya akan menggerakkan sektor konsumsi rumah tangga. "Padahal, untuk bisa mengakselerasi ekonomi yang dibutuhkan adalah investasi," kata Enny.

Perekonomian nasional saat ini, kata dia, masih sangat mengandalkan pertumbuhan, melalui konsumsi rumah tangga. Data Badan Pusat Statistik (BPS), menunjukkan, konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi terbesar dalam struktur Produk Domestik Bruto (PDB) 2017 senilai 56,13%.

INDEF memandang, realisasi investasi merupakan prasyarat pertumbuhan ekonomi berkualitas yang dapat dinikmati oleh semua pelaku. Makna pertumbuhan ekonomi berkualitas tergambar dari realisasi investasi yang menyerap tenaga kerja lebih banyak.

Enny menambahkan, faktor yang perlu diperbaiki untuk mengatasi persoalan investasi adalah penyelesaian masalah korupsi, efisiensi institusi pemerintah, dan peningkatan akses keuangan. [tar]

Komentar

x