Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 16 Agustus 2018 | 19:30 WIB

INFID: Persepsi Kesenjangan Sosial 2017 Memburuk

Oleh : Indra Hendriana | Kamis, 8 Februari 2018 | 17:55 WIB
INFID: Persepsi Kesenjangan Sosial 2017 Memburuk
Peneliti Utama di International NGO Forum on Indonesian Development, Bagus Takwin - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Indikator yang menjadi sumber persepsi ketimpangan sosial di masyarakat Indonesia pada 2017, mengalami kenaikan dibandingkan 2016. Tentu saja ini masalah serius.

Pada 2017, terdapat 5-6 indikator yang menjadi sumber pemicu lahirnya ketimpangan sosial. Sedangkan pada 2016, terdapat 4 hingga 5 indikator saja.

Kesimpulan tersebut merupakan hasil survei dari Internasional NGO Forum on Indonesia Developmen (INFID). Di mana, survei dilakukan pada September-November 2017.

Peneliti Utama INFID, Bagus Takwin memaparkan, ke-5 sampai 6 indikator yang menjadi sumber ketimpangan sosial, diantaranya adalah, penghasilan, pekerjaan, rumah atau tempat tinggal, harta benda, serta kesejahteraan keluarga. Sedangkan satu indikator lainnya adalah pendidikan.

Bagus menjelaskan, pada indikator penghasilan terdapt 71,1% masyarakat yang merasa timpang. Indikator pekerjaan 62,6%, rumah atau tempat tinggal 61,2%, harta benda 59,4%, kesejahteraan keluarga 56,6%, dan pendidikan 54%.

Survei dilakukan terhadap 2.250 responden yang tersebar di 34 Provinsi. Metode survei digelar dengan multistep rundom sampling, margin error 0,5. "Hasilnya indeks 5,6. Artinya dari 10 ranah, sebanyak 5 atau 6 ranah terjadi ketimpangan. Naik dari tahun lalu yang hanya 4 atau 5 ranah. Jadi memang ada peningkatan," kata Bagus saat memaparkan hasil surveinya di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (8/2/2018).

Sedangkan persepsi masyarakat terkait ketimpangan di lingkungan tempat tinggal sebesar 52%, terlibat politik 48%, hukum 45% dan kesehatan 42,3%.

Ketimpangan sosial ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Mulai Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Jawa-Bali dan Indonesia Timur. Sedangkan perbandigan total jenis ketimpangan di Sumatera, pada 2017 berada di angka 5,36. Lebih besar dari 2016 yang berada di angka 4,52.

Sulawesi, pada 2017 berada di angka 4,35, atau lebih besar dari 2016 yang berada di angka 3,76. Kalimantan, pada 2017 berada di angka 5,12, atau lebih besar dari 2016 yang berada di angka 4,39.

Untuk Jawa-Bali pada 2017 berada di angka 5,27, atau lebih besar dari 2016 yang berada di angka 3,91. Dan, kawasan Indonesia Timur pada 2017 berada di angka 6,57, atau lebih besar dari 2016 yang berada di angka 5,15.

Bagus menjealskan, terdapat sekitar 54,2% responden menilai bahwa penghasilan yang dimiliki tidak cukup dan kurang layak. Sedangkan yang menilai layak sebanyak 41,2%.

Kemudian, warga juga menilai ada ketimpangan antara laki-laki dan perempuan. "45,5 persen masyarakat bilang ada ketimpangan antara perempuan dan laki-laki. Secara umum terjadi ketimpangan juga dalam aspek gender," kata Bagus. [ipe]

Komentar

x