Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 18 Agustus 2018 | 04:04 WIB

3 Tahun Ekonomi Gagal, Tahun Politik Makin Berat

Oleh : - | Jumat, 9 Februari 2018 | 10:36 WIB
3 Tahun Ekonomi Gagal, Tahun Politik Makin Berat
(Foto: ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Memasuki tahun politik, tantangan ekonomi pemerintahan Joko Widodo makin berat. Tiga tahun berlalu, realisasi pajak dan pertumbuhan ekonomi, selalu gagal target. Tahun ini bagaimana?

Anggota Komisi XI DPR, Willgo Zainar pesimis dengan perekonomian 2018 yang diklaim sejumlah menteri ekonomi Kabinet Kerja, bakal lebih baik. "Ingat, tiga tahun pemerintahan Pak Jokowi, belum pernah mencapai target. Baik dari sektor pertumbuhan maupun pajak. Walaupun grafiknya memang ada peningkatan," papar Willgo di Jakarta, Kamis (8/2/2018).

Politisi Gerindra ini lantas mengeluarkan catatan tentang pencapaian pajak 2017 hanya 89,8% dari target Rpp1.283,6 triliun. Sementara pertumbuhan ekonomi 2017 hanya 5,07%, masih kurang dari target 5,2 %. "Padahal, asumsi pertumbuhan sudah dirubah dua kali. Itu-pun masih gagal juga," papar Willgo,

Kalau 3 tahun rapor ekonomi Jokowi merah terus, bagaimana tahun ini? Anak buah Prabowo ini mengaki pesimis. "Agak sulit mencapai target pertumbuhan 5,4% serta target pajak Rp1424 triliun. Di mana, target pajak naik 20 persen," kata Willgo.

Memasuki 2018 yang disebut tahun politik, Willgo mengiingatkan soal faktor eksternal dan internal yang akan menyulitkan pergerakan ekonomi. Faktor eksternal, misalnnya, reformasi pajak di Amerika Serikat (AS), dikhawatirkan mendorong arus dana keluar serta penundaan investasi. "Belum lagi mamanasnya Semenanjung Korea, Palestina, dan sebagainya. Faktor eksternal ini harus menjadi concern pemerintah," terangnya.

Sedangkan masalah internal, Willgo menyebut banyaknya petahanayang maju di pilkada serentak. Kondisi ini akan berdampak kepada macetnya sejumlah perizinan investasi. Karena, birokrasi akan fokus kepada pilkada. "Teentunya, pengusaha akan memilih untuk wait and see," jelasnya.

Untuk mendorong perekonomian, kata Willgo, pemerintah perlu memperkuat peningkatan daya beli. Wajar apabila pemerintah menyiapkan dana besar dari APBN 2018 untuk stimulusnya. Tahun ini, pemerintah melakukan stimulus berbentuk bansos yang menyedot 25 persen dari APBN 2018.

Willgo mengingatkan sepinya sektor riil alias dunia bisnis. Hal itu tercermin dari landainya pergerakan kredit perbankan. Gejala bahwa pertumbuhan pengusaha baru tidak berjalan. Bahkan,, pengusaha lama banyak yang gulung tikar. "Untuk bisa bertahan atau survival, sudah sangat luar biasa berat," paparnya.

Masih beratnya sektor bisnis ini, kata Willgo, jangan sampai kembali dibebani dengan tingginya pungutan pajak. Kalau itu yang terjadi, dikhawatirkan perekonomian bisa semakin berantakan. "Silahkan ambil telurnya tapi jangan matikan ayamnya," pungkas Willgo. [ipe]

Komentar

x