Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 23 Oktober 2018 | 09:25 WIB

10 Juta Rakyat Indonesia Hidup di Era Kegelapan

Sabtu, 10 Februari 2018 | 16:09 WIB

Berita Terkait

10 Juta Rakyat Indonesia Hidup di Era Kegelapan
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rida Mulyana - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Takalar - Ternyata, masih banyak rakyat Indonesia yang belum bisa menikmati energi listrik. Dengan kata lain, mereka masih hidup di era kegelapan.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rida Mulyana menyebut angka 10 juta.

Ya, maksudnya adalah 10 juta rakyat Indonesia belum menikmati aliran listrik. Padahal, umur Republik Indonesia sudah 72 tahun, tapi masih belum bisa memberikan rakyatnya energi listrik secara berkeadilan.

"Masih ada 10 juta orang pakai penerangan minyak damar atau minyak tanah sehingga negara harus hadir untuk sediakan listrik yang belum terjangkau PT PLN," kata Rida di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Jumat (9/2/2018).

Saat menyerahkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), termasuk jaringan listrik 422 rumah di Desa Balangdatu, Kecamatan Mappakasunggu, Takalar kepada Pemkab Takalar, Rida mengatakanm, warga yang belum menikmati listrik itu, tersebar di 2.500 desa.

"Selama 72 tahun merdeka, masih ada 2.500 desa belum lihat bola lampu, apalagi merasakan penerangan listrik," kata Rida.

Ia mengatakan bahwa masih ada warga belum menikmati listrik merupakan ketidakadilan karena orang Jakarta sudah pakai listrik puluhan tahun, bahkan cenderung boros.

"Pak Menteri ESDM minta agar energi bisa dinikmati seluruh rakyat Indonesia dengan harga terjangkau," katanya.

Untuk menjangkau warga yang belum memiliki listrik, Kementerian ESDM telah membangun 600 PLTS dan masih banyak lagi akan dibangun dengan memanfaatkan sumber daya lokal.

Jika di daerah ada sumber air, kata dia, akan dibangun pembangkit listrik mikrohidro. Namun, tidak ada sungai maka dibangun PLTS seperti di Desa Balangdatu.

Rida meminta PLTS di Balangdatu dipelihara dengan baik agar bisa dimanfaatkan dalam jangka panjang, bahkan dia minta agar warga membayar iuran listrik sebagai biaya pemeliharaan.

PLTS di Balangdatu dibangun 2016 dan mulai dinikmati 422 kepala keluarga sejak 2017, sehingga warga kini bisa menikmati listrik pada malam hari.

Karena PLTS hanya berkapasitan maksimal 100 kilovolt, tiap rumah hanya mendapatkan daya 300 watt. Namun, telah bisa untuk menyalakan televisi, laptop, dan komputer.

Kementerian ESDM tidak hanya membangun PLTS dan jaringan distribusi ke rumah, tetapi juga memberikan dua lampu tiap rumah dan lampu penerangan jalan desa. Untuk mengoperasikan PLTS, dua warga Desa Balangdatu telah dipilih sebagai operator bahkan telah mendapatkan pelatihan di Jakarta. [tar]

Komentar

x