Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 20 September 2018 | 20:40 WIB

3 Investor Ngebet Bisnis Petrokomia, Siapa Saja?

Senin, 19 Februari 2018 | 15:30 WIB

Berita Terkait

3 Investor Ngebet Bisnis Petrokomia, Siapa Saja?
Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto menyebut tiga perusahaan ini tertarik masuk industri petrokimia di Indonesia. Siapa saja mereka?

"Mereka akan memproduksi kebutuhan bahan baku kimia berbasis nafta cracker di dalam negeri. Sehingga nanti kita tidak perlu lagi," kata Airlangga di Jakarta, Senin (19/2/2018).

Pertama, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. selaku industri nasional, akan menggelontorkan dana sebesar US$6 miliar sampai 2021 dalam rangka peningkatan kapasitas produksi.

Kedua, industri petrokimia asal Korea Selatan, Lotte Chemical Titan, akan merealisasikan investasinya sebesar US$3-4 miliar untuk memproduksi naphta cracker dengan total kapasitas sebanyak 2 juta ton per tahun.

Dan, ketiga, manufaktur besar Thailand, Siam Cement Group (SCG), juga berencana membangun fasilitas produksi nafta cracker senilai US$600 juta di Cilegon, Banten. "Dengan tambahan investasi Lotte Chemical dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk., Indonesia akan mampu menghasilkan bahan baku kimia berbasis naphta cracker sebanyak 3 juta ton per tahun," ujar AIrlangga.

Bahkan, lanjutnya, Indonesia bisa memposisikan sebagai produsen terbesar ke-4 di ASEAN setelah Thailand, Singapura, dan Malaysia. Di samping itu, Kementerian Perindustrian mencatat, beberapa perusahaan farmasi dan bahan baku obat yang telah menggelontorkan dananya untuk investasi di Indonesia.

Beberapa di antaranya PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia senilai Rp132,5 miliar dan PT Ethica Industri Farmasi sebesar Rp1 triliun. Sedangkan, di sektor kosmetika, PT Unilever Indonesia melakukan perluasan pabrik dengan nilai investasi mencapai Rp748,5 miliar.

Airlangga menyebutkan, industri farmasi menjadi salah satu subsektor yang diharapkan berkontribusi signifikan untuk mencapai target pertumbuhan industri pengolahan nonmigas 2018 yang telah ditetapkan sebesar 5,67%. "Industri farmasi sudah mampu menyediakan 70 persen dari kebutuhan obat dalam negeri," ungkapnya. [tar]

Komentar

x