Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 21 September 2018 | 10:07 WIB

Industri Sawit Si Anak Tiri

Sabtu, 3 Maret 2018 | 14:15 WIB

Berita Terkait

Industri Sawit Si Anak Tiri
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Minyak sawit menjadi penyumbang devisa ekspor terbesar, yaitu US$23 miliar. Atau lebih dari Rp 300 triliun di 2017. Ironisnya pemerintah terkesan kuat tak mendukung industrinya.

"Bukan malah perkembangan sektor perkebunan kelapa sawit dibatasi, misalnya dengan moratorium penanaman baru sawit," kata Imron Mawardi, pengamat ekonomi dan bisnis Universitas Airlangga, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut Imron, moratorium tidak akan menyelesaikan masalah.
Persoalan lingkungan dan perizinan perkebunan kelapa sawit tidak perlu diselesaikan melalui moratorium.

"Moratorium tidak mendorong investasi dan juga tidak akan menyelesaikan masalah-masalah yang jadi alasan dilakukan moratorium," kata Imron.

Seharusnya, pemerintah itu memberikan berbagai insentif agar investasi masuk. Karena investasi dan ekspor sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Nah sektor perkebunan sawit ini kan menjadi andalan Indonesia untuk mendongkrak ekspor yang sangat dibutuhkan negara," katanya.

Pemerintah, kata Imron, seharusnya melindungi sawit. Pemerintah juga perlu melobi negara-negara yang menerapkan hambatan perdagangan, terutama negara-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Pendapat senada disampaikan ekonom Indef (Institute for Development of Economic and Finance), Bhima Yudhistira, regulasi yang dibuat pemerintah banyak yang tidak sinkron dalam mendorong terwujudnya investasi.

Di sektor perkebunan kelapa sawit, Bhima menyebut moratorium sawit dan Peraturan Pemerintah (PP) No 71/2014 jo PP No 57/2016 (PP Gambut) merupakan penghambat investasi.

"Padahal kita tahu, bahwa investasi di sektor kelapa sawit memerlukan dana yang cukup besar. Kita juga eksportir besar di mana kita bersama Malaysia menguasai sekitar 90% pasar minyak sawit dunia. Sawit juga sebagai penyumbang devisa terbesar," kata Bhima. [tar]

Komentar

x