Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 22 Juni 2018 | 18:13 WIB
 

Rupiah Masih dalam Tekanan Global

Oleh : - | Selasa, 6 Maret 2018 | 03:01 WIB
Rupiah Masih dalam Tekanan Global
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sejak pertengahan Januari 2018 menimbulkan sedikit kekhawatiran.

Kurs rupiah yang berada pada kisaran Rp13.300-an/dolar pada pertengahan Januari 2018 sempat mengalami perlemahan hingga saat ini mencapai posisi Rp13.700-an.

Tekanan global menjadi alasan utama depresiasi rupiah kali ini. Pasar diduga bereaksi atas membaiknya data perekonomian di AS dan potensi normalisasi kebijakan moneter oleh Bank Sentral AS (The Fed).

Pada penutupan Senin sore (5/3/2018), nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, melemah lima poin menjadi Rp13.756 dibanding posisi sebelumnya Rp13.751 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Bank Woori Saudara Indonesia Tbk Rully Nova di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah ini terpengaruh sentimen dari The Fed.

Pada Maret 2018, The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga dan pasar menantikan sinyal seberapa banyak kenaikan suku bunga tersebut.

Kendati demikian, menurut Rully, volatilitas rupiah relatif masih stabil, apalagi, Bank Indonesia juga melakukan intervensi agar fluktuasi ini tidak terlalu bergejolak.

Research Analyst FXTM, Lukman Otunuga menambahkan pernyataan Presiden AS Donald Trump tentang tarif sebesar 25 persen untuk impor baja dan 10 persen untuk aluminium, ikut membatasi apresiasi terhadap dolar AS.

"Spekulasi kenaikan suku bunga AS menopang dolar AS, namun kekhawatiran tentang perang perdagangan akibat kebijakan itu dapat menekan dolar AS," katanya.

Melihat pergerakan rupiah tersebut, Ketua DPR Bambang Soesatyo meminta Bank Indonesia mengantisipasi pelemahan mata uang agar tidak melewati batas fundamental yang dapat membebani kondisi fiskal negara.

Selain menimbulkan beban fiskal, kata dia, pelemahan rupiah dapat membebani kinerja korporasi karena membuat cicilan utang semakin besar dan menurunkan daya saing produk karena impor semakin mahal.

Oleh karena itu, ketua parlemen mendorong pemerintah untuk terus melakukan pengawasan jangka menengah dan jangka panjang terhadap dinamika ekonomi global, seperti nilai tukar rupiah yang terus tertekan dan harga minyak dunia, secara konsisten.

Rupiah undervalued Bank Indonesia mencatat volatilitas rupiah sejak 1 Januari 2018 hingga 1 Maret 2018 sudah menyentuh 8,3 persen, dibandingkan sepanjang 2017 yang hanya mencapai tiga persen.

Secara terpisah, Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, fluktuasi nilai rupiah yang berada pada kisaran Rp13.700-Rp13.800 sudah berlebihan, dan berada di bawah nilai fundamental (undervalued).

Bank Sentral, kata Mirza, siap untuk melakukan stabilisasi di dua pasar, yakni pasar valas dan pasar surat berharga negara (SBN) jika nilai rupiah terus "undervalued".

Ia menegaskan pelemahan rupiah ini hanya bersifat sementara. Terlebih, mata uang Garuda bukan menjadi satu-satunya mata uang yang melemah terhadap dolar AS.

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Doddy Zulverdi ikut memastikan tidak ada alasan depresiasi rupiah terjadi karena faktor domestik, sebab data-data menunjukkan adanya perbaikan ekonomi.

Hingga akhir Februari 2018 indikator ekonomi Indonesia, terjaga baik. Inflasi sebesar 3,18 persen (yoy), cadangan devisa 131,9 miliar dolar AS, kurs rupiah Rp13.573 per dolar AS, serta pertumbuhan ekonomi 2017 yang sebesar 5,07 persen (yoy).

"Angka Rp13.800 per dolar AS berlebihan. Karena jika melihat inflasi membaik, neraca pembayaran surplus, pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, seharusnya rupiah bisa lebih kuat. Jadi perlemahan tadi karena faktor global," katanya.

Menurut dia, kondisi ekonomi domestik tidak akan membuat pelemahan rupiah terlalu dalam, terutama karena sasaran inflasi yang masih terjaga di jangkar Bank Sentral dan proyeksi pertumbuhan yang lebih baik tahun ini.

Untuk itu, Bank Indonesia memproyeksikan gejolak nilai tukar yang terjadi dapat berlangsung hingga The Fed mengumumkan kebijakan suku bunga terbaru pada Maret 2018.

Pantauan terhadap kondisi ekonomi Melihat kondisi saat ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan pemerintah akan terus menjaga ekonomi dari dinamika global, termasuk kebijakan moneter, fiskal maupun perdagangan AS, agar tidak terlalu memengaruhi pergerakan rupiah.

Meski terjadi fluktuasi yang tajam, ia menilai nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih cukup kompetitif dan memiliki daya tahan dari tekanan global.

Untuk itu, Sri Mulyani mengharapkan kurs rupiah terhadap dolar AS terus fleksibel dan stabil untuk bisa menciptakan daya saing bagi sektor perdagangan yang telah membaik sepanjang 2017.

"Paling penting adalah menggambarkan rupiah cukup fleksibel tapi tetap stabil, yang bisa menciptakan kepastian terhadap dunia usaha, namun tidak menimbulkan daya kompetitif yang tererosi," ujarnya.

Kepala Ekonom CIMB Niaga Adrian Panggabean juga meyakini perlemahan mata uang yang terjadi ini belum memunculkan nilai fundamental baru karena rupiah akan kembali pada rentang Rp13.100-Rp13.600 per dolar AS.

Menurut dia, kondisi lebih buruk pernah dialami mata uang ketika pasar bereaksi negatif atas terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS pada November 2016.

"Dari perspektif historis selama 17 tahun terakhir, perlemahan rupiah saat ini relatif kecil. Fluktuasi rupiah pernah jauh lebih lebar dari ini," katanya.

Meski stabilitas sistem keuangan dan makro ekonomi Indonesia saat ini dalam kondisi yang baik, tidak ada salahnya bagi pemerintah dan bank sentral untuk lebih berhati-hati dalam mengantisipasi tekanan global.

Kesalahan dalam bersikap bisa menjadi petaka dan menjadi awal mula kegagalan, seperti krisis finansial yang pernah melanda Asia pada periode 1997-1998, termasuk Indonesia. [tar]

Komentar

 
x