Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 19 Desember 2018 | 09:37 WIB

Perang Dagang Trump, Ini Dampaknya Bagi Indonesia

Oleh : Indra Hendriana | Rabu, 7 Maret 2018 | 02:29 WIB

Berita Terkait

Perang Dagang Trump, Ini Dampaknya Bagi Indonesia
Anggota Komisi XI asal Golkar M Sarmuji - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Perang dagang yang ditabuh Presiden Amerika Serikat (AS) Donal Trump dengan pengenaan tarif untuk baja impor dan alumunian impor, harus disikapi hati-hati oleh pemerintah Indonesia.

Seperti disampaikan anggota Komisi XI asal Golkar M Sarmuji, sikap hati-hati itu bukan karena Indonesia ingin mengekspor baja atau alumunium ke AS. Namun karena Indonesia bisa menjadi negara pembuangan baja dan alumunium yang tidak jadi dipasok ke AS lantaran adanya biaya tinggi tersebut.

"Yang harus dilihat adalah masuknya baja dan alumunium ke Indonesia karena perkembangan di AS seperti itu. Misalkan Cina ke AS, kemudian mengalihkan pasarnya ke Indonesia, karena beban tarifnya tinggi," kata Sarmuji pada INILAHCOM, Jakarta, Selasa (6/3/2018).

Guna mengantisipasi hal itu, pemerintah, kata dia, harus membuat industri baja dan alumunium lebih kompetitif. Sehingga, Indonesia tak perlu mengimpor baja atau alumunium."Enggak ada cara lain, kecuali mau ikut menggunakan tarif besar," ujar dia.

Diketahui, pasar saham Asia pada Senin (5/3/2018) kembali merosot karena tarif impor baja dan aluminium yang diusulkan Presiden Trump. Hal itu menuai kekhawatiran akan meletupnya perang dagang global.

Ekuitas anjlok pekan lalu setelah Trump mengumumkan rencana kontroversialnya menerapkan tarif itu. Walaupun indeks saham AS pada perdagangan Jumat, ditutup sedikit menguat. Namun, masih ada kemungkinan kembali anjlok.

Trump meningkatkan retorikanya. Dalam cuitan di Twitter ia menulis, "Sahabat dan musuh kita telah memanfaatkan Amerika selama bertahun-tahun." Ia menambahkan, "Maaf, ini saatnya berubah!"

Langkah itu, bagian dari gerakan proteksionis Trump menuai kemarahan di seluruh dunia dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan pejabat mulai dari China sampai Belgia. [ipe]

Komentar

x