Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 17 Desember 2018 | 20:38 WIB

Jangan Takut, Dampak Perang Dagang AS Hanya Secuil

Oleh : Indra Hendriana | Rabu, 7 Maret 2018 | 14:24 WIB

Berita Terkait

Jangan Takut, Dampak Perang Dagang AS Hanya Secuil
Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara - (Foto: istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Menghadapi genderang perang dagang yang ditabuh Presiden AS Donald Trump terkait pengenaan tarif baja dan alumunium impor, pemerintah tak perlu khawatir. Dampaknya kecil dan mudah solusinya.

Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara, menyarankan agar proyek infrastruktur era pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang begitu masif harusnya bisa menyerap produksi baja dalam negeri. Sehingga Indonesia tak perlu ekspor baja.

"Memang ada dampaknya. Pertama dampak langsungnya tidak terlalu besar, karena khusus untuk besi baja dan alumunium nilainya (ekspor) kecil-lah ya," kata Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara di Gedung Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Rabu (7/3/2018).

Bhima menjelaskan, total ekspor Indinesia ke AS untuk dua barang tersebut, berkisar hanya 2% dari total ekspor komoditas lainnya. Jadi benar kata Bhima, dampaknya tidak perlu dikhawatirkan.

Pemerintah, kata Bhima, semestinya membuat keputusan yang tepat. "Cara yang paling gampang sekarang untuk yang di bawah 2% ekspor kita itu dialihkan ke negara yang lain atau diserap ke dalam negeri terutama untuk infrastruktur," kata dia.

Pasar saham Asia hari Senin (5/3/2018) kembali merosot karena tarif impor baja dan aluminium yang diusulkan Presiden Trump. Dalam cuitan di Twitter ia menulis, "Sahabat dan musuh kita telah memanfaatkan Amerika selama bertahun-tahun. Maaf, ini saatnya berubah. Make America Great Again," kata Trump.

Langkah itu, bagian dari gerakan proteksionis Trump "America First," menuai kemarahan di seluruh dunia dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan pejabat mulai dari China hingga Belgia. [ipe]

Komentar

x