Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 25 Juni 2018 | 14:43 WIB
 

Indonesia Jadi Surganya Baja Oplosan Asal China

Oleh : Indra Hendriana | Rabu, 7 Maret 2018 | 14:58 WIB
Indonesia Jadi Surganya Baja Oplosan Asal China
(Foto: istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Indoneisa diprediksi bakal kebanjiran baja asal China, apabila Presiden Amerika Serikat (AS) Donal Trump menjalankan perang dagang berupa pengenaan tarif untuk baja dan alumunian impor.

Sebab, negara-negara produsen baja terbesar seperti China, akan mencari pasar baru. Nah, Indonesia yang tengah melakukan pembangunan infrastruktur besar-besaran, bisa menjadi salah satu pasar yang dibidik. "Kita akan kebanjiran baja murah dari China. Apalagi baja China kemarin diisukan banyak oplosan dimana mereka menghindari bea masuk, yang seharusnya mereka bayar 10-15 % karena dioplos mereka bayar bea masuk hanya 5%," kata ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara di Gedung Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (7/3/2018).

Kalau sudah beggitu, Bhima menyarankan pemerintah untuk waspada. Diperlukan ketegasan dan keberanian dalam membendung masuknya baja atau alumunium impor asal China. Tujuannya ya jelaslah untuk melindungi industri baja dalam negeri. "Untuk menghalang masuknya baja impor dari Cina memang kita harus ada pengawasan ketat. Jadi jangan sampai di akalin dengan baja oplosan," ujar Bhima.

Dalam hal ini, Bhima bilang, tanggung jawab penuh berada di dua lembaga yakni kementerian perdagangan dan direktorat jenderal bea cukai kementerian keuangan. "Iya itu yang harus dilakukan pengawasan dari Kementerian perdagangan dan Bea Cukai yaitu harus benar benar diperketat," kata dia.

Pasar saham Asia hari Senin (5/3/2018) kembali merosot karena tarif impor baja dan aluminium yang diusulkan Presiden Trump. Dalam cuitan di Twitter ia menulis, "Sahabat dan musuh kita telah memanfaatkan Amerika selama bertahun-tahun. Maaf, ini saatnya berubah. Make America Great Again," kata Trump.

Langkah itu, bagian dari gerakan proteksionis Trump "America First," menuai kemarahan di seluruh dunia dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan pejabat mulai dari China hingga Belgia. [ipe]

Komentar

 
x