Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 24 Juni 2018 | 04:28 WIB
 

Demi Stabilisasi Rupiah Cadev Dikorbankan US$3,9 M

Oleh : - | Rabu, 7 Maret 2018 | 19:30 WIB
Demi Stabilisasi Rupiah Cadev Dikorbankan US$3,9 M
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Agusman - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta- Posisi cadangan devisa (cadev) di akhir Februari 2018 sebesar US$128,06 miliar, susut US$3,92 miliar ketimbang Januari 2018 yang mencapai US$131,98 miliar. Untuk apa ya?

Susutnya cadev Februari 2918, menurut Bank Indonesia (BI) untuk stabilisasi nilai tukar rupiah dan pembayaran utang luar negeri. Selain itu, cadev berkurang karena susutnya penempatan valuta asing perbankan di BI. "Karena kebutuhan pembayaran kewajiban valas masyarakat," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Agusman di Jakarta, Rabu (7/3/2018).

"Penurunan cadangan devisa pada Februari 2018 tersebut terutama dipengaruhi oleh penggunaan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah," lanjut dia.

Meski demikian, posisi cadangan devisa tersebut masih cukup untuk membiayai 8,1 bulan impor atau 7,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Bank Sentral menilai jumlah cadangan devisa tersebut masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Selain itu, kata Agusman, Indonesia akan menikmati tambahan devisa dari hasil penerbitan sukuk global pemerintah sebesar US$3 miliar pada Maret 2018. "Bank Sentral menjamin kecukupan cadangan devisa guna mendukung stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," ujar dia.

Nilai tukar rupiah terus tertekan sepanjang Februari 2018, terutama karena sentimen pelaku pasar menyambut pengumuman data ekonomi AS yang cenderung membaik dan juga pernyataan Gubernur baru Bank Sentral AS The Federal Reserve Jerome Powell yang menyiratkan nada berani atau "hawkish" mengenai rencana kenaikan suku bunga The Fed lebih dari tiga kali pada tahun ini.

Perdagangan rupiah masih bertahan di level Rp13.700, bahkan nyaris Rp13.800 per US$ pada Rabu ini. Level tersebut ditegaskan BI sebagai level yang di bawah nilai fundamental rupiah atau "undervalued".

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara pada akhir pekan lalu menyatakan kurs rupiah yang cocok dengan perekonomian Indonesia adalah Rp13.200-Rp13.300 per dolar AS.

Sejak 1 Januari hingga 1 Maret 2018, volatilitas kurs rupiah sebesar 8,3 persen atau jauh lebih rentan dibanding volatilias rupiah sepanjang 2017 yang hanya 3%. [tar]

Komentar

 
x