Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 22 Juni 2018 | 18:13 WIB
 

Rupiah Babak Belur, Bos BI tak Mau Disalahkan

Oleh : - | Kamis, 8 Maret 2018 | 10:40 WIB
Rupiah Babak Belur, Bos BI tak Mau Disalahkan
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo bilang, volatilitas kurs rupiah yang melemah dalam beberapa hari terakhir, karena dampak langsung dari ekonomi global.

Yakni rencana bank sentral AS mengerek suku bunga, serta kebijakan fiskalnya. Hal itu disampaikan Agus dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Rabu (7/3/2018). Dia mengatakan, dampak dari kebijakan ekonomi AS berpengaruh terhadap pergerakkan mata uang di seluruh negara. Jadi, bukan hanya terhadap mata uang rupiah saja.

Namun, Agus meyakini, ketahanan fundamental ekonomi Indonesia serta koordinasi antara BI dengan pemerintah, bisa menahan tekanan ekonomi eksternal tersebut. Jadi, gejala pelemahan mata uang rupiah ini, tidak akan terlalu memengaruhi perekonomian domestik.

"BI konsisten dan berhati-hati merespons dinamika pergerakan nilai tukar Rupiah yang sedang berlangsung untuk memastikan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan tetap terjaga," ujar Agus yang sebentar lagi lengser dari BI ini.

Agus menjelaskan, berbagai indikator telah mencerminkan perbaikan ketahanan ekonomi domestik. Misalnya, inflasi dalam tiga tahun terakhir bisa terjaga dengan baik. Demikian pula defisit neraca transaksi berjalan turun ke 1,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2017.

"Bank Indonesia memperkirakan secara keseluruhan tahun 2018 defisit Neraca Transaksi Berjalan tetap sehat di kisaran 2,1 persen dari PDB, sejalan dengan dinamika pemulihan ekonomi. Karena pemulihan, impor bahan baku juga diperkirakan ada peningkatan," kata Agus.

Selain itu, ujar Agus, kondisi fiskal semakin baik, didukung oleh kebijakan Pemerintah yang hati-hati. Selain itu, reformasi struktural yang tengah berjalan baik akan meningkatkan daya saing perekonomian.

Persepsi terhadap kinerja ekonomi Indonesia juga cenderung membaik, yang dibuktikan dari dinaikannya peringkat surat utang Indonesia oleh beberapa lembaga pemeringkat internasional.

"Ketahanan cadangan devisa saat ini jauh lebih kuat, tercermin dari posisi cadangan devisa Januari 2018 yang mencapai 131,98 miliar dolar AS, tertinggi dari yang pernah dicapai," ujarnya.

Agus juga mengklaim beberapa peraturan Bank Indonesia, seperti kewajiban lindung nilai bagi Utang Luar Negeri dan kewajiban penggunaan rupiah, telah mengurangi permintaan valas yang berlebihan. "Bank Indonesia akan tetap berada di pasar secara terukur untuk mengawal terciptanya stabilitas Rupiah," ujar Agus.

Perdagangan rupiah masih bertahan di kisaran Rp13.700 per US$ pada Rabu (7/3/2018). Level tersebut sudah ditegaskan BI pada akhir pekan lalu sebagai level yang di bawah nilai fundamental rupiah atau undervalued.

Sejak 1 Januari hingga 1 Maret 2018, volatilitas nilai tukar (kurs) rupiah sebesar 8,3%. Atau jauh lebih rentan ketimbang volatilias rupiah sepanjang 2017 yang hanya 3%. [tar]


Komentar

 
x