Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 19 Desember 2018 | 09:40 WIB

Balitbangtan Rakit Varietas Padi Hemat Fosfat 50%

Kamis, 8 Maret 2018 | 13:46 WIB

Berita Terkait

Balitbangtan Rakit Varietas Padi Hemat Fosfat 50%
(Foto: istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Selama ini menanam padi dibutuhkan dosis banyak pupuk. Namun Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) tengah merakit tanaman padi dengan penggunaan pupuk fosfat atau pupuk P yang efisien dengan produksi padi yang dihasilkan sama.

Sudah menjadi kebiasaan umum petani seringkali memberikan pupuk dengan dosis melebihi yang dianjurkan. Padahal, untuk pemberian pupuk P misalnya, tidak semuanya bisa diserap tanaman. Balitbangtan tengah melakukan perakitan varietas unggul baru (VUB) menggunakan bioteknologi bukan produk rekayasa genetika (PRG) namun memanfaatkan bantuan marka molekuler.

Menurut Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetika Pertanian, Dr Mastur, dalam keterangannya, baru-baru ini, pada tanah mineral masam seperti tanah Ultisol, Oxisol, dan Spodosol pupuk P yang diberikan hanya diserap tidak lebih dari 10%. Pada tanah mineral seperti umumnya di Jawa penyerapan bisa lebih dari 10%, namun biasanya tidak lebih dari 20%.

Pada tanah-tanah masam ion aluminium dan atau besi menyebabkan ion fosfat berubah menjadi bentuk tidak bisa diserap karena biasanya membentuk senyawa mengendap Al-P atau Fe-P. Pada tanah pH tinggi ion kalsium bisa menyebabkan ion fosfat tidak tersedia karena biasanya membentuk senyawa endapan Ca-P. Tanah dari gunung api yang disebut Andisol yang punya banyak bahan amorf alofan juga banyak mengikat ion fosfat.

"Oleh karena itu, pemupukan yang berlebihan selain akan menguras kantong petani juga tidak akan bermanfaat bagi tanaman itu sendiri. P akan menumpuk seperti pada tanah sawah di Jawa yang lama dipupuk P. Memang betul penanaman dengan sistem organik akan bisa mengurangi pemakaian pupuk kimia, namun pupuk ini memerlukan cara penyediaan yang tidak mudah, sedangkan produk yang dihasilkan harganya masih terlalu tinggi untuk konsumen kebanyakan," papar Mastur.

Selain masalah itu, lanjutnya, kelangkaan pupuk dan pupuk yang dipalsukan seolah tak pernah lepas dari kehidupan petani. Bahan baku pupuk ini banyak diimpor karena tambang mengandung fosfat yang terdapat di Indonesia tergolong rendah. Pupuk P (SP36) di tingkat eceran (nonsubsidi) mencapai Rp250.000 per zak kemasan 50 kg. Pupuk SP36 yang disubsidi mencapai Rp100.000 per zak. Bandingkan dengan pupuk urea yang hanya Rp90.000 per zak (harga subsidi). Ketergantungan pada impor tidak sehat bagi perekenomian

Menurut Mastur, kekurangan unsur P pada padi akan menyebabkan pertumbuhan perakaran dan tanaman terhambat, jumlah anakan berkurang, lebar daun berkurang, produk asimilat berkurang, waktu berbunga lebih lambat, banyak gabah hampa, dan penurunan jumlah gabah per malai. Balai Besar (BB) Biogen telah merintis kegiatan pemuliaan marka molekuler ini dengan memasukkan segmen gen P uptake 1 (Pup1) ke dalam padi Indonesia. Dengan penambahan segmen Pup1 ini diharapkan P yang sebetulnya sudah ada di dalam tanah menjadi bisa dimanfaatkan tanaman sehingga tambahan pupuk P dari luar bisa ditekan serendah mungkin.

Ia memaparkan, Pup1 merupakan daerah di dalam kromosom padi yang disinyalir mengatur perkembangan akar yang jauh lebih baik pada tanah dengan kondisi tanah yang kurang P. Daerah ini diketahui terdapat pada padi Kasalath (dari India) dan bisa dimanfaatkan sebagai sumber gen. Padi Kasalath merupakan padi lahan kering yang tahan kering, tapi sayangnya tidak toleran terhadap keracunan aluminium dan tidak tahan terhadap serangan blas. "Daerah Pup1 ini sudah diteliti sejak 1998 oleh Dr. Matthias Wissuwa (Peneliti JIRCAS, Jepang) dan sekarang sedang dilakukan pemindahan segmen tersebut ke dalam padi budidaya kita," tambahnya.

Maskur menjelaskan, Balitbangtan melalui BB-Biogen atas dukungan IRRI sedang mengembangkan padi-padi Pup1 tersebut. IRRI berkonsentrasi dengan padi sawah, sedangkan Indonesia berkonsentrasi pada padi gogo. Seluruh proses pemindahan segmen tersebut dilakukan dengan persilangan biasa, sedangkan seleksinya dibantu dengan marka molekuler (marka foreground, recombinant, dan background).

Seleksi menggunakan marka molekuler ini sudah lazim dilakukan di dalam pemuliaan tanaman, karena tidak berbahaya bagi makhluk hidup dan produk yang dihasilkan bisa langsung dipakai oleh pengguna tanpa melewati prosedur pengujian yang rumit seperti pada tanaman transgenik. Di IRRI sendiri segmen Pup1 dimasukkan ke dalam padi IR64 dan IR74 sebagai tetua betina, sedangkan sebagai tetua donor adalah Kasalath dan NIL-14-4, dan di Indonesia segmen Pup1 dimasukkan ke dalam padi Dodokan, Situ Bagendit, dan Batur sebagai tetua betina sedangkan sebagai tetua donor adalah Kasalath dan NIL-C443.

Varietas-varietas padi tersebut sudah dikenal baik oleh petani, sehingga diharapkan begitu galur-galur tersebut dilepas petani sudah siap menerimanya. Dengan menggunakan marka molekuler ini proses persilangan menjadi lebih singkat. Biasanya, untuk mendapatkan galur-galur yang homogen diperlukan persilangan sampai BC5 atau BC6, sedangkan dengan teknologi marka ini persilangan cukup hanya sampai BC2 atau BC3 saja dengan hasil yang akurat.

"Teknologi marka molekuler juga memberikan kepastian keberadaan segmen gen yang diinginkan. Namun, untuk mendapatkan galur-galur yang sesuai dengan keinginan petani masih diperlukan ketajaman insting dari pemulia/penelitinya," jelasnya.

Berdasarkan pengamatan awal, kata dia, terlihat segmen Pup1 mampu memberikan efek positif terhadap hasil pada kondisi kurang P. Seandainya pupuk P hanya dipakai 50% dari dosis sekarang ini (tentu saja dengan hasil sama), maka akan terjadi penghematan yang luar biasa.

Dengan luas lahan sawah di Indonesia sekitar 13 juta hektar dengan dosis pupuk P yang umum digunakan adalah 100150 kg SP36/ha. Apabila dipakai dosis 100 kg SP36/ha, untuk luas padi 13 juta ha, pupuk P yang dibutuhkan adalah 1300 juta kg (= 1,3 juta ton). Apabila harga SP36 adalah Rp 100.000 per 50 kg (harga subsidi), maka tiap musim tanam petani Indonesia menghabiskan uang sebesar Rp2,6 triliun (atau harga nonsubsidi sekitar Rp3,9 triliun).

"Seandainya pupuk SP36 bisa dihemat 50% saja, maka uang petani yang bisa dihemat tiap musim tanam bisa mencapai 1,3 sampai 1,95 triliun. Jumlah yang luar biasa besarnya. Bagi petani dan kelestarian lingkungan hidup peningkatan efisiensi pemupukan P akan memberikan dampak yang luar biasa," pungkasnya. [*]

Komentar

x