Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 21 September 2018 | 10:02 WIB

Pendiri Matahari Berakhir di Sungai Citarum

Minggu, 11 Maret 2018 | 01:39 WIB

Berita Terkait

Pendiri Matahari Berakhir di Sungai Citarum

INILAHCOM, Jakarta - Pendiri Matahari Departement Store, Hari Darmawan meninggal dunia secara mengenaskan pada Sabtu pagi (10/3/2018).

Pebisnis ritel yang kini pemilik swalayan Hari-Hari ini, ditemukan tewas tersangkut batu di Sungai Ciliwung, Bogor, Jawa Barat, sekitar pukul 06.00.

Sehari sebelumnya, tepatnya pada Jumat malam (9/3/2018), Hari dinyatakan hilang. Kala itu, Hari sedang berada di vilanya di kawasan Cilember, berdekatan dengan aliran Sungai Ciliwung.

Ada dugaan bahwa Hari terpeleset dan jatuh ke Sungai Ciliwung yang saat itu arusnya sangat deras. Lantaran hujan yang tak henti-henti. Dan pada Sabtu pagi, mayat hari ditemukan dalam posisi tengkurap, tersangkut di bebatuan. Letaknya sekitar 1 kilometer dari vila Hari.

Selanjutnya, almarhum akan dikremasi di Rumah Duka Kertha Semadi, Ubung Kaja, Denpasar, Bali. Sesuai keinginan Hari semasa masih hidup. rencana kremasi dilakukan pada Rabu (14/3/2018) setelah sebleumnya digelar doa penghiburan.

Selain berbisnis ritel, Hari yang dikenal dermawan serta murah senyum itu, memiliki Taman Wisata Matahari di Cisarua, Bogor.

Sekedar catatan saja, sejak muda Hari adalah pekerja keras yang pantang menyerah. Lulus SMA, nekat merantau ke Jakarta. Selanjutnya dia menikahi puteri dari pemilik toko serba ada di kawasan Pasar Baru, namanya Mickey Mouse.

Tak lama kemudian, mertuanya menjual toko tersebut kepadanya. Nasib mujur berpihak kepadanya. Toko tersebut membesar dan memberikan keuntungan besar.

Pada 1968, Hari membeli toko ritel terbesar di Pasar Baru, namanya Toko De Zon. Diambil dari bahasa Belanda yang kalau di-Inggris-kan bermakna The Sun alias Matahari.

Entah kenapa, Hari ternyata lebih sreg menggunakan Matahari sebagai nama tokonya. Pada Oktober 1968 Hari membuka gerai pertama Matahari. Dan, pada 1980, Hari melakukan ekspansi bisnis besar-besaram. Dia membuka cabang hampir di seluruh kota besar di Indonesia.

Barulah pada 1997, ketika terjadi krisis moneter, peruntungan tak berpihak kepadanya. Kala itu, Hari harus menanggung kerugian yang cukup besar. Selanjutnya, Matahari dijualnya ke Lippo Group. Dan, Hari tetap menjalankan bisnis ritel melalui "Pasar Swalayan Hari-Hari'. [ipe]

Komentar

x