Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 22 September 2018 | 09:20 WIB

Jokowi Kejar Pertumbuhan Ekonomi 10%, Bisakah?

Oleh : Ahluwalia | Minggu, 11 Maret 2018 | 09:32 WIB

Berita Terkait

Jokowi Kejar Pertumbuhan Ekonomi 10%, Bisakah?
(Foto: Inilahcom)

INILAH.COM, Jakarta -Bangsa Indonesia merindukan pemerintahan yang memiliki kapasitas, kapabilitas, integritas dan kreativitas untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi minimal 10%.

Ekonomi Jepang dan China tumbuh 10-12% selama dua puluh tahun sehingga mampu menjadi negara maju. Kalau Indonesia mau maju, pertumbuhan ekonomi minimal 10% per tahun selama sedikitnya satu dekade. Bagaimana kemungkinannya?

Dengan pertumbuhan 10-12% itu, Indonesia baru bisa menjadi negara maju. RI tidak bisa bergerak maju hanya dengan pertumbuhan ekonomi 5%. Apalagi mengalami stagnasi ekonomi. Pertumbuhan ekonomi 5% hanya membuat Indonesia menjadi negara tertinggal di Asia Tenggara.

Oleh sebab itu, berbagai kalangan mendorong agar kontestasi politik di tahun 2019 diikuti oleh figur yang memiliki pemahaman mumpuni di bidang ekonomi.

Sejauh ini, tim ekonomi pemerintahan Jokowi gagal memenuhi target pertumbuhan yang dicanangkan sebesar 7 persen. Pada kenyataannya, pertumbuhan ekonomi mentok di kisaran 5 persen.

Dan jangan lupa, ketika memberikan sambutan pada peresmian kawasan industri, Presiden Jokowi menyampaikan rasa sedihnya karena sebagai negara besar, dalam hal ekspor Indonesia kalah denganMalaysia, Singapura, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Sementara dalam hal investasi, Indonesiajuga kalah dengan Malaysia, dengan Thailand, dan dengan Vietnam.

"Kalau ini diterus-teruskan, Presiden khawatir nanti dengan negara-negara Kamboja, Laos pun kita bisa kalah," ujarnya.

Untuk itu, Presiden Jokowi berjanji akhir Maret ini akan mengobrak-abrik semuanya agar kelemahan Indonesia, terutama masalah perizinan bisa dibenahi.

Di Indonesia, 40 persen rakyat masih sangat miskin, 40 persen kelas menengah bawah dan hanya 20% yang sudah mapan secara ekonomi. Sehingga, diperlukan kecerdasan dan ketangkasan para teknokrat ekonomi: Bagaimana strategi guna mencapai pertumbuhan 10 persen?

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2017 tercatat sebesar 5,07%. Filipina ekonominya tumbuh 6,7% dan Vietnam mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi 7,65% pada kuartal IV-2017 sehingga sepanjang 2017 mampu tumbuh 6,81%.Sama halnya dengan Filipina, pertumbuhan ekonomi Vietnam juga didorong oleh sektor industri.

Indeks produksi industri Vietnam pada 2017 naik hingga 9,4%. Kenaikan ini lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 7,5%.Dibandingkan dengan negara-negara di regional, pencapaian Indonesia bisa disebut tertinggal dari tetangganya.

Dalam hal ini, ekonom senior Rizal Ramli menyampaikan bahwa jika ingin menjadi negara maju maka ekonomi Indonesia mulai 2009-2024 harus bisa tumbuh di atas 10 persen, atau dua kali dari saat ini.

Ekonom Institute for Development of Economics & Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, menyebut pertumbuhan ekonomi 2017 mengalami stagnasi jika dibanding tahun 2016.

Untuk wilayah Asean, Malaysia tumbuh 6,2 persen, Thailand 4,3 persen dan Filipina 6,6 persen.

"Kalau Indonesia cuma tumbuh di angka 5 persen artinya kita belum optimal memanfaatkan peluang," jelas Bhima.

Bhima menilai, ada beberapa faktor yang membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami stagnasi di 2017. Salah satu penyebabnya adalah sektor konsumsi rumah tangga yang berkotribusi 56 persen terhadap PDB justru mengalami penurunan pertumbuhan yakni hanya mencapai 4,95 persen lebih rendah dari 2016 di angka 5,01 persen.

Konsumsi rendah dipicu oleh kebijakan pencabutan subsidi listrik di awal tahun 2017. Akibatnya daya beli masyarakat miskin jatuh.

Sementara itu, adanya kecenderungan orang kaya menahan belanja, mengakibatkan ritel menengah atas berguguran di sepanjang tahun 2017. Sementara pertumbuhan industri manufaktur juga bergerak mendatar di kisaran 4,27 persen, porsinya juga anjlok menjadi 20,16 persen terhadap PDB.

Ekonomi tahun ini hanya tumbuh 5 persen. Kenapa hanya 5 persen? Para ekonomi menilai, karena masih adanya pengetatan regulasi pajak. "Ekonomi lagi merosot kalau dilakukan pengetatan udah pasti makin melambat dan ini sudah terlihat di Yunani," ungkap Rizal Ramli .

Untuk menggenjot angka pertumbuhan ekonomi pada tahun ini, Pemerintahan Jokowi diharapkan untuk terus fokus mengalihkan sektor penyaluran kredit perbankan ke sektor kecil seperti UMKM.

Yang harus dipompa ialah kredit. Tahun 2017 kredit hanya tumbuh 8 persen, dengan mimpi ekonomi bisa 5,4 persen.

"Kredit harus bisa tumbuh 15-16 persen. Tapi kredit jangan hanya untuk taipan dan golongan mampu. Kita bisa coba Bumdes misalnya kredit macetnya 0,2 persen atau program mekar. Ini akan bisa mengatasi ketimpangan," ungkap Rizal Ramli.

Itulah sebabnya, rakyat menanti pada 2019 hadirnya capres-cawapres yang memiliki kapasitas, kapabilitas, integritas dan kreativitas untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi minimal 10%. Ekonomi Jepang dan China tumbuh 10-12% selama dua puluh tahun sehingga mampu menjadi negara maju .

Dengan demikian, kalau ekonomi tumbuh hanya 5%, sesungguhnya demokrasi liberal di Indonesia gagal mengangkat harkat martabat bangsa ini.

Ini jelas kegagalan sistemik, yang harus diatasi dengan pendekatan sistemik pula agar demokrasi membawa maslahat bagi rakyat, bukan malah membawa sengsara bagi masyarakat kita, para demosnya yang merindukan pembaruan menuju keadilan dan kesejahteraan bersama. (berbagai sumber) [jin]

Komentar

x