Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 21 September 2018 | 10:03 WIB

Kebun Raya Bogor Dipermak Jadi Wisata Milenial

Senin, 12 Maret 2018 | 02:29 WIB

Berita Terkait

Kebun Raya Bogor Dipermak Jadi Wisata Milenial
(Foto: istimewa)

INILAHCOM, Bogor - Wajah Kebun Raya Bogor bakal dipoles menjadi kawasan wisata ilmiah yang sesuai dengan tren era milenial. Lankapsnya ditata menjadi wisata konservasi dengan spot-spot yang instragrammable, berbasiskan wisata iilmiah.

Tujuannya agar masyarakat dan generasi muda, bisa memahami sejarah serta tonggak keberhasilan anak bangsa dalam mengembangkan beragam tumbuhan tropis di Indonesia. Salah satunya adalah kelapa sawit.

Demikian disampaikan Deputi bidang Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) Lembaga Ilpu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Enny Sudarmonowati usai mendampingi Presiden Jokowi dalam Penandatanganan Prasasti Plasma Nutfah Kelapa sawit Indonesia, LIPI di Tugu 2 Abad Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya LIPI di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Minggu (11/3/2018).

Mungkin tak banyak yang tahu, Kata Enny, tanaman kelapa sawit pertama kali dibudidayakan di di Indonesia pada 1848, atau 200 tahun lampau. Awalnya, tidak ada yang pernah menyangka bahwa perkembangan sawit begitu dasyat.

"Hasil penelitian sawit yang bermula dari empat pohon asal Afrika di Kebun Raya Bogor itu, kini mampu mengubah wajah perekonomian Indonesia menjadi lebih baik," kata Emi.

Ke depan, lanjutnya, LIPI berencana menggandeng pihak swasta untuk mengembangkan berbagai tanaman melalui penelitian dan teknologi. Dia memastikan, sepanjang mengikuti pengelolaan yang berkelanjutan serta menaati standar seperti ISPO, budidaya sawit tidak masalah.

Kepala Kebun Raya Bogor Didik Widiatmoko, mengatakan, plasma nuftah sawit adalah nenek moyang sawit yang ditanam di Kebun Raya Bogor memiliki sifat adaptif.

Wajarlah bila tanaman ini sangat mudah dibudidayakan di mana saja, termasuk pada lahan semak belukar, gambut atau lahan terdegradasi. "Di habitat asalnya, sawit merupakan tanaman yang tumbuh di lahan basah," kata Didik.

Hasril Hasan Siregar, Direktur Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), mengatakan, keberhasilan pemuliaan bibit unggul sawit tidak terlepas dari peran empat bibit dura yang diintroduksi dan ditanaman di Kebun Raya Bogor.

Bibit kelapa sawit unggulan salah satunya Dura Deli. Dura Deli merupakan keturunan langsung generasi ke-4 dari plasma nutfah yang ditanam di Kebun Raya Bogor pada 1848. "Saat ini, hampir semua perkebunan sawit di Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand menggunakan bibit Dura Deli," kata Hasril.

Menurut Hasril, PPKS berupaya mewujudkan visinya sebagai lembaga penelitian yang mampu menjadi pusat penelitian unggulan di bidang perkelapasawitan.

Kepala LIPI, Prof Bambang Subiyanto mengatakan, penandatanganan prasasti oleh Presiden Jokowi, merupakan salah satu bagian penting dari peringatan Dua Abad Kebun Raya Bogor.

Beberapa hal yang melandasi perlunya penandatanganan prasasti tersebut adalah, pertama, berdirinya Kebun Raya Bogor pada 1817 merupakan cikal bakal berdirinya institusi-institusi ilmiah di Indonesia. Hal ini merupakan sejarah yang sangat penting bagi Bangsa Indonesia.

"Kebun Raya Bogor menjadi bukti dimulainya kesadaran Bangsa Indonesia terhadap pentingnya penerapan ilmu pengetahuan dalam pemanfaatan sumber daya tumbuhan, khususnya untuk kepentingan ekonomi negara," kata Bambang.

Kedua, lanjutnya, prasasti tersebut bakal menjadi bukti sejarah bahwa kehadiran Kebun Raya Bogor mampu memperbaiki perekonomian negara melalui pengembangan potensi berbagai jenis tumbuhan, termasuk Kelapa sawit dan Kina.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono mengatakan, penandatangan prasasti oleh Presiden Jokowi merupakan bentuk apresiasi pemerintah terhadap sejarah kelapa sawit Indonesia. "Tanpa adanya pemulian sawit di Kebun Raya Bogor, tidak akan pernah ada perkebunan sawit di Indonesia," kata Joko.[tar]

Komentar

x