Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 21 September 2018 | 10:02 WIB

Luhut: Presiden Minta Masalah Garam Diberesi

Oleh : Indra Hendriana | Selasa, 13 Maret 2018 | 03:09 WIB

Berita Terkait

Luhut: Presiden Minta Masalah Garam Diberesi
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut B. Pandjaitan - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Terkait importasi garam untuk industri sebanyak 3,7 juta ton, Menko Kemaritiman Luhut B Pandjaitan bilang, Presiden Joko Widodo memerintahkan seluruh pihak terkait untuk mengatasi kebutuhan garam industri dalam negeri.

Kalau memang produksi dalam negeri tidak bisa mencukupi, mau tak mau ditempuh langkah impor. "Garam industri akan dipenuhi. Tadi, presiden sudah bicara," kata Luhut di kantornya, Jakarta, Senin (13/3/2018).

Namun begitu, Luhut mengaku tak tahu persis berapa besar impor garam industri. Yang jelas, presiden sudah memberikan arahan agar kebutuhan garam untuk industri dalam negeri bisa terpenuhi. "(kuota impornya, red) saya enggak tahu jumlah persis," pungkas Luhut.

Sekedar mengingatkan, pemerintah membuka keran impor garam industri sebanyak 3,7 juta ton. Nilai importasi ini mencapai Rp1,8 triliun.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, garam merupakan salah satu komoditas yang strategis, karena sangat dibutuhkan dalam semua sektor kehidupan.

Bagi manusia, digunakan untuk konsumsi, sedangkan industri guna menunjang proses produksinya, seperti industri kimia, aneka pangan dan minuman, farmasi dan kosmetika, hingga pengeboran minyak.

"Tanpa garam, industri kertas tidak bisa berproduksi. Tanpa garam, kontak lensa tidak bisa diproduksi. Jadi, penggunaannya sangat luas. Bahkan, di Batam, ada perusahaan yang saat ini membutuhkan garam sekitar 2.000 ton," kata Airlangga dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (12/3/2018).

Menurut Airlangga, kebutuhan garam nasional pada 2018 diperkirakan sekitar 3,7 juta ton. Jumlah tersebut menjadi tantangan bagi industri pengolahan garam nasional agar bisa memenuhi dari produksi dalam negeri sehingga mengurangi ketergantungan terhadap impor. "Indonesia memiliki potensi daerah yang perlu dikembangkan menjadi basis produksi industri garam secara intensifikasi, di antaranya adalah di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur," ungkapnya.

Perlu diketahui, kualitas garam yang digunakan oleh industri tidak hanya terbatas pada kandungan natrium klorida (NaCl) yang tinggi, yakni minimal 97%. Namun, masih ada kandungan lainnya yang harus diperhatikan seperti Kalsium dan Magnesium dengan maksimal 600 ppm serta kadar air yang rendah. Standar kualitas ini yang dibutuhkan industri aneka pangan dan industri chlor alkali plan (soda kostik).

Sedangkan garam yang digunakan oleh industri farmasi untuk memproduksi infus dan cairan pembersih darah, harus mengandung NaCl 99,9%.

Airlangga memberi gambaran, industri pengolahan garam mampu berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Misalnya, dari impor bahan baku garam sebesar 3,7 juta ton senilai Rp1,8 triliun, bisa menghasilkan nilai tambah tinggi hingga menjadi Rp1.200 triliun.

"Kemudian, untuk penyerapan tenaga kerja di industri pengolahan garam dan turunannya sebanyak 3,5 juta orang, serta mampu meningkatkan devisa negara sebesar USD5,6 miliar dari eskpor produk-produk industri yang menggunakan bahan baku garam," jelasnya. [ipe]

Komentar

x