Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 19 September 2018 | 20:54 WIB

BPS: 3 Bulan Terakhir, Ekspor RI Loyo

Oleh : M Fadil Djaelani | Kamis, 15 Maret 2018 | 12:45 WIB

Berita Terkait

BPS: 3 Bulan Terakhir, Ekspor RI Loyo
Kepala BPS Kecuk Suhariyanto - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor RI dalam kurun waktu 3 bulan terakhir boleh dibilang loyo. Lantaran, angkanya terus menurun.

BPS mencatat, nilai ekspor RI menunjukan penurunan sejak Desember 2017 hingga Februari 2018. Di mana, nilai ekspor pada Desember 2017 mencapai US$14,79 miliar, turun menjadi US$14,46 miliar pada Januari 2018. Selanjutnya longsor lagi menjadi US$14,10 miliar. "Sudah 3 bulan terkahir nilai ekspor kita terus turun," kata Kepala BPS Kecuk Suhariyanto di Kantornya, Jakarta, Kamis (15/3/2018).

Sayangnya, Kecuk tak menjelaskan secara detil, komoditas apa yang nilai ekspornya turun dalam 3 bulan terakhir itu. Dia hanya meminta agar pemerintah segera memperbaiki penurunan ini. "Mudah-mudahan pemerintah bisa meningkatkan lagi nilai ekspor, karena ini kan bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang bisa bergerak kebawah," katanya.

Untuk kinerja ekspor Februari 2018, Kecuk menjelaskan, penurunan komoditas non-migas lantaran terjadinya fluktuasi harga. "Selama bulan Januari ke Februari ada beberapa komoditas non migas mengalami penurunan dan kenaikan," katanya. Kata Kecuk, ekspor sektor migas tercatat US$1,39 miliar. Angka tersebut naik 5,08% jika dibandingkan bulan sebelumnya.

Sementara sektor pertanian, ekspornya mencapai US$0,24 miliar, atau turun 8,81%. "Ada beberapa hasil komoditas turun di antaranya sarang burung, kopi, tanaman obat, aromatik dan rempah rempah," jelasnya.

Sektor lain yang mengalami penurunan ekspor adalah sektor pengolahan dan sektor pertambangan serta barang lainnya. Masing-masing mengalami penurunan terhadap bulan sebelumnya sebesar 3,89% dan 3,74%.

"Golongan barang yang mengalami peningkatan ekspor terbesar pada Februari adalah timah, bijih kerak, kapal laut, nikel, kertas dan karton. Dan barang yang mengalami penurunan adalah pakaian jadi, besi dan baja, bahan bakar mineral, alas kaki, mesin atau peralatan," katanya. [ipe]

Komentar

Embed Widget
x