Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 20 April 2018 | 17:59 WIB
 

Ini Cerita Petugas Pos Pengamatan Gunung Sinabung

Oleh : Wahid Ma'ruf | Kamis, 22 Maret 2018 | 11:01 WIB
Ini Cerita Petugas Pos Pengamatan Gunung Sinabung
(Foto: esdm)

INILAHCOM, Karo - Gunung Sinabung di Kabupaten Karo Sumatera Utara menjadi gunung berapi paling aktif saat ini. Para petugas pengamatan gunung api harus melaporkan 24 jam aktifitas Sinabung tanpa henti. Bagaimana ceritanya?

Di Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Sinabung ada Deri Al Hidayat yang menjadi ketua pos. Deri memiliki rekan kerja 4 orang sebagai pengamat gunung api seperti Armen Putra, Arif Cahyo Purnomo, Ardi, dan M. Nurul Asrori yang tinggal dan berjaga di PGA di Jalan Kiras Bangun, Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo. Merekalah para pengamat yang bertanggung jawab melaporkan kondisi terkini aktivitas Gunung yang melepaskan erupsi pertama pada 27 Agustus 2010 tersebut.

Menjadi seorang Pengamat Gunung Api bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Kewaspadaan dan tajamnya intuisi dalam memantau aktivitas gunung menjadi kunci. Tugas mereka mulai dari mengoperasikan seismogram digital maupun seismograf yang masih tradisional, juga pengamatan aktivitas gunung visual lain.

Seorang pengamat tidak boleh salah dan harus teliti. Pekerjaannya sangatlah penting, lengah dalam bertugas berarti lengah menjaga keselamatan masyarakat sekitar gunung, terlebih pada gunung api yang aktif "terjaga", salah satunya Gunung Sinabung di Sumatera Utara yang sejak 2 Juni 2015 kembali berstatus "AWAS".

Setiap hari mereka melakukan tugas mulai dari proses pengambilan data aktivitas gunung Sinabung yang selanjutnya mereka olah dan analisis setiap hari untuk dilaporkan kepada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang diperlukan dalam menetukan status gunungapi dan mitigasi bencana.

"Kita di sini sifatnya memastikan semua peralatan berjalan dengan lancar, mengumpulkan data, dan data itu kita kirim ke PVMBG di Bandung. Terkadang kita melakukan analisis, terutama untuk gempa, kita di sini menentukan hipocenter gempanya di mana dan kedalamannya, dan dari situ kita bisa tahu migrasi magmanya ke mana," jelas Deri yang telah mengamati Gunung Sinabung sejak 4 tahun silam seperti mengutip www.esdm.go.id yang mengunjungi mereka pada Selasa (20/3/2018).

Dalam mengamati Gunung Sinabung, Deri dan teman-temannya juga menceritakan apa yang dilakukan selama 24 jam setiap hari, tanpa henti. Jika terjadi aktivitas gunung yang berpotensi bahaya, tugas Deri dan kawan-kawan pula untuk segera memberitahu masyarakat sekitar.

"Gunung Sinabung ini sedang aktif terus, jadi kita pantau terus 24 jam tiada henti. Malam hari pun kita tetap standby di sini apabila nanti ada letusan, ada awan panas. Kita juga selalu menginformasikan ke masyarakat sekitar, baik via radio ataupun grup whatsapp, dan media sosial lain," ujarnya.

Ternyata, menginformasikan masyarakat tentang potensi bencana geologi, terutama potensi bahaya erupsi gunung tidaklah semudah membalik telapak tangan. Jangan dikira, ketika seorang pengamat gunungapi mengimbau masyarakat untuk menjauhi daerah rawan bencana, kemudian masyarakat serta merta mengikuti petunjuk mereka.

Deri mengaku, kendala bahasa juga sempat membuat sosialisasi ini berjalan kurang lancar. Masyarakat Kabupaten Karo sangat menjunjung bahasa ibu mereka, sementara para pengamat Gunung Sinabung tidak berasal dari daerah setempat.

"Saat ada sosialisasi dengan warga setempat, kami sempat kesulitan dengan bahasa di sini, karena banyak masyarakat di sini yang kurang memahami Bahasa Indonesia. Banyak masyarakat di sini yang menjunjung bahasa ibu yakni Bahasa Karo, sehingga kita di sini kesulitan untuk berkomunikasi dengan mereka," ujar pria asal Kebumen, Jawa Tengah ini.

Deri juga masih ingat, ketika dahulu masyarakat sekitar meremehkan informasi yang mereka berikan. "Sebelum meletus tahun 2013 itu masyarakat susah kita kasih tahu. Waktu sosialisasi kita diremehkan, 'ah ini bohong tidak mungkin gunung ini meletus, karena sudah sekian tahun tidak ada cerita dari nenek moyang kalau gunung ini meletus'. Tapi perlahan-lahan, setelah terjadi satu letusan, kemudian kita ngobrol lagi ke mereka, mereka sudah mulai mengerti dan memahami," ceritanya lagi.

Namun saat ini, ujar Deri, masyarakat sudah sangat mengerti akan bahaya Gunung Sinabung dan patuh akan informasi yang diberikan dari pos pengamat. Peristiwa letusan tahun 2014 dan 2016 yang membawa korban pun membuat masyarakat semakin waspada.

"Sekarang alhamdulillah, masyarakat sudah patuh bahwa zona merah ini berbahaya, dan juga ada insiden tahun 2014 dimana 19 orang meninggal, dan 2016 saat ada 7 korban meninggal. Itu menjadi pelajaran untuk mereka sehingga mereka mengerti bahwa gunung ini sedang aktif dan berbahaya dan tidak seharusnya untuk didekati," tutur Deri.


Komentar

 
x