Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 18 Oktober 2018 | 17:34 WIB

Cegah Kebocoran, Samad Ajak Pelototi APBN 2018

Oleh : Agus Irawan | Jumat, 23 Maret 2018 | 08:50 WIB

Berita Terkait

Cegah Kebocoran, Samad Ajak Pelototi APBN 2018
Mantan Ketua KPK, Abraham Samad - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Mantan Ketua KPK, Abraham Samad mengajak segenap lapisan masyarakat awasi pelaksanaan APBN 2018, terutama sektor pengadaan barang dan jasa.

Menurut Ketua KPK 2011-2015 ini, sebagian besar kasus korupsi yang ditangani KPK berasal dari realisasi pengadaan barang dan jasa yang menyalahi aturan. Laporan KPK per 31 Desember 2017, terdapat 171 kasus korupsi pengadaan barang dan jasa.

Untuk APBN 2018, kata dia, belanja negara nilainya cukup fantastis, yakni Rp. 2.220,7 triliun. "Ini bisa menjadi sumber kebocoran jika tidak dikelola dengan benar dan transparan," kata Abraham dalam keterangan tertulis, Jakarta, Kamis (22/3/2018).

Dia mencontohkan, proyek pembangunan Stadion Hambalang, Bogor, Jawa Barat, merugikan negara Rp703 miliar. "Apalagi kasus megakorupsi KTP elektronik. Negara dirugikan sebesar Rp. 2,3 triliun,. Itu nilai korupsi yang amat luar biasa!" ujar Abraham.

Karena itu, Abraham mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut mengawasi penggunaan uang negara yg sebagian besar sumbernya berasal dari pajak. "Tetapi sayangnya berkaca dari pengalaman di sektor pengelolaan perpajakan selama ini, masih banyak sekali kelemahan termasuk di dalamya tata kelola perpajakan yang masih amburadul yang bisa menimbulkan fraud dan korupsi," ungkapnya.

Sementara itu, dua tempat di mana Abraham akan menyampaikan pemikirannya secara lengkap dan menyeluruh itu adalah Auditorium Universitas Negeri Padang-Sumatera Barat dan Gedung Serba Guna UIN Imam Bonjol Padang-Sumatera Barat, kamis (22/3/2018).

Samad menjelaskan, pendapatan negara diproyeksikan sebesar Rp1.894,7 triliun. Jumlah ini berasal dari penerimaan perpajakan Rp1.618,1 triliun, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp275,4 triliun, dan Hibah sebesar Rp1,2 triliun.

Untuk belanja negara dalam APBN 2018, pemerintah dan DPR menyepakati sebesar Rp2.220,7 triliun. Nilai ini, Samad sangat fantastis, meliputi belanja pemerintah pusat Rp1.454,5 triliun, serta transfer ke daerah dan dana desa sebesar Rp766,2 triliun. Sedangkan anggaran Infrastruktur Rp410, 7 triliun.

Melihat postur APBN 2018, kata Abraham, pendapatan negara diproyeksikan Rp 1.894,7 triliun, sebagian besar diharapkan bisa ditopang penerimaan pajak Rp1.618,2 triliun.

"Dalam postur APBN 2018 juga terlihat di mana hampir sebagian besar pengeluaran dan belanja negara itu tersedot habis dalam pengadaan barang dan jasa, termasuk di dalam pembangunan infrastruktur yang didominasi pengadaan barang dan jasa . Inilah celah paling besar terjadinya korupsi," tegasnya.

Pengadaan Barang dan Jasa
Samad mengungkapkan, hampir sebagian besar kasus korupsi yang ditangani KPK, berasal dari proses Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ). Merujuk Laporan Tahunan KPK 2016 dan 2017, sektor PBJ merupakan titik rawan tindak pidana korupsi, di samping sektor perencanaan dan pengelolaan Anggaran Pemerintah dan Belanja Daerah serta pelayanan perizinan.

Samad bilang, mega kasus korupsi KTP Elektronik merupakan salah satu contoh kasus korupsi di sektor PBJ kakap. Di mana kerugian negara akibat praktik haram ini mencapai Rp2,3 triliun. Sementara anggaran proyeknya ditetapkan Rp5,9 triliun. "Artinya hampir 50 persen dana proyek KTP Elektronik ini dikorupsi," ucapnya.

Selain korupsi KTP elektronik yang melibatkan sejumlah anggota Dewan, Ketua DPR dan pengusaha, Abraham mengambil contoh lain kasus korupsi PBJ, yakni kasus korupsi proyek pembangunan Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Sarana Olah Raga Nasional (P3SON) di Hambalang atau dikenal dengan Kasus Hambalang yang mencuat ke permukaan beberapa tahun lalu. Kerugian negara akibat kasus ini menurut dia sebesar Rp706 miliar.

Merujuk pada hasil kajian KPK terhadap upaya pencegahan korupsi pada PBJ pemerintah ditemukan bahwa korupsi PBJ paling banyak terjadi pada lima tahapan atau proses, yaitu (1) tahap perencanaan anggaran; (2) tahap perencanaan-persiapan PBJ Pemerintah; (3) tahap pelaksanaan PBJ Pemerintah; (4) tahap serah terima dan pembayaran; dan (5) tahap pengawasan dan pertanggungjawaban.

"Korupsi di sektor PBJ Pemerintah ini setidaknya akan mengakibatkan tiga hal, yaitu rendahnya kualitas barang dan jasa pemerintah, kerugian keuangan negara, dan rendahnya nilai manfaat yang didapatkan," pungkas Samad. [ipe]

Komentar

x