Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 22 September 2018 | 05:26 WIB

Rakyat Indonesia Menanggung Utang Rp16 Juta/Orang

Senin, 26 Maret 2018 | 04:09 WIB

Berita Terkait

Rakyat Indonesia Menanggung Utang Rp16 Juta/Orang
(Foto: Ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Per Februari 2018, utang pemerintahan Joko Widodo mencapai Rp4.034,8 triliun. Diasumsikan rakyat Indonesia berjumlah 250 juta jiwa, artinya tiap orang berutang Rp16 juta.

Menurut Herry, kenaikan utang pemerintah sebesar Rp1.200 triliun dalam 3 tahun ini, cukup mencemaskan. Kenaikannya tidak mampu diimbangi kenaikan pendapatan pajak. Padahal, penerimaan pajak adalah salah satu ukuran kemampuan bayar utang.

Dalam hal ini, kata dia, pemerintah selalu berdalih bahwa utang negara yang kini bengkak Rp4.034,8 triliun, atau 29,5% dari PDB, adalah masih aman.

Masih di bawah UU tentang Keuangan Negara yang membatasi utang pemerintah 60% PDB. Selain itu, utang negara dianggap di bawah ratio utang negara lain.

Celakanya, ada pejabat negara yang membandingkan utang Indonesia dengan Jepang yang rasio utang terhadap PDB-nya mencapai 200%. Pola pikir seperti ini jelas perlu dipertanyakan. Lantaran tidak apple to apple.

Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Semisal, pemerintah Jepang itu menanggung utang kepada rakyat dan bank sentral. Dengan rasio masing-masing 50%.

Selain itu, utang Jepang dalam bentuk yen, bukan US$. Bunganya sangat rendah, 1% lebih dikit. Kredit rating Jepang A+, alias sangat secure

Selain itu, utang Jepang memang tinggi, namun dari kaca mata riil, perekonomian Negeri Sakura ini cukup kuat. Net international investment positions sebesar US$2,8 triliun. Maknanya, Jepang memiliki net external assets positif, masuk kategori negara kreditor.

Berbeda dengan Indonesia yang porsi utang kepada kreditor asing, cukup besar. Utang dalam bentuk valas juga lumayan besar. Belum lagi bunga utang yang 2 digit, tertinggi di Asia.

Sedangkan net international investment position-nya negatif sekitar US$400 miliar. Dengan kata lain, posisi neraca Indonesia adalah negara debitor.
Oh iya ada yang lupa. Tax ratio Jepang sebesar 31% PDB, sementara Indonesia kurang dari 11%. Angka ini terendah di dunia.

Pemerintah juga tidak membandingkan dengan ratio APBN terhadap PDB di Indonesia yang amat rendah dibandingkan negara-negara yang sering dijadikan pembanding itu.

Begitu pula dengan debt service ratio di Indonesia yang 40%. atau tertinggi di Asia Tenggara. Sementara batas yang dianggap aman maksimal 25%.

Dan, sekitar 41% utang negara berbentuk valuta asing (valas). Dengan average time to maturity 9 tahun dan yang bertenor (jatuh tempo) 5 tahun sebesar 40%. Hal ini akan menjadi beban berat APBN dalam 5 tahun ke depan.

Kekhawatiran lain adalah membengkaknya utang pemerintah karena kurs rupiah yang cenderung melemah sehingga diperlukan uang dari pendapatan pajak yang lebih banyak lagi untuk pembayaran utang dalam valas.

Yang tak kalah mirisnya adalah soal ketimpangan ekonomi. Di mana, 1% orang terkaya di Indonesia menguasai 45,5% kekayaan nasional. Dan, orang terkaya Indonesia yang berjumlah 10% dari total penduduk itu menguasai 75% kekayaan nasional.

Dalam sepuluh tahun terakhir (2006-2017), aset 40 orang terkaya di Indonesia meningkat tajam dari US$22 miliar menjadi US$119 miliar. Terjadi kenaikan 5,5 kali hanya dalam waktu 10 tahun. Atau, 317% dalam 10 tahun yang setara 4 kali angka pertumbuhan ekonomi nasional. Ketimpangan ini adalah ketidakadilan yang merupakan tantangan nyata bagi era Jokowi. [ipe]

Komentar

x