Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 19 Desember 2018 | 07:30 WIB

Rizal: Pilih Bos BI yang Berani Jujur

Selasa, 27 Maret 2018 | 00:29 WIB

Berita Terkait

Rizal: Pilih Bos BI yang Berani Jujur
Mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli mewanti-wanti DPR untuk memilih Deputi Gubernur dan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang memiliki sifat jujur.

Kata ekonom senior ini, sifat jujur bagi pimpinan bank sentral, sangatlah penting. Sebagai acuan dalam memperbaiki kebijakan pemerintah. "Misalnya, soal pelemahan rupiah, jujur saja bukan hanya karena tekanan eksternal. Tetapi ada juga faktor domestik yang membuat rupiah terus melemah," kata Rizal yang pernah menjabat Menteri Keuangan dan Menko Perekonomian dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi XI DPR, Jakarta, Senin (26/3/2018).

Menurut Rizal, pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi sejak awal tahun hingga Maret 2018, bukan hanya dampak dari kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat (Fed Fund Rate/FFR). Namun juga akibat rencana ekspansi fiskal Presiden AS Donald Trump, seperti yang kerap disebutkan BI sebagai penyebab utama depresiasi rupiah.

Selain itu, Rizal bilang, pelemahan rupiah, dipantik perekonomian domestik. Semisal, derasnya aliran modal jangka pendek yang keluar di pasar keuangan, serta neraca transaksi berjalan yang terus menyisakan lubang defisit. "Gubernur BI yang sekarang tidak pernah menyebutkan komponen domestiknya yang membuat rupiah melemah. Padahal ekonomi kita masih sangat rentan," ujar Rizal.

"Selalu disebutkan alasannya, negara negara lain juga mata uang melemah, dikomparasikan, padahal ada pekerjaan rumah di kondisi domestik yang bisa menjadi catatan BI," tambah Rizal.

Untuk perbaikan kebijakan di pasar keuangan, kata Rizal, Gubernur anyar BI harus mampu berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan, serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dalam rangka mengurangi arus dana asing di pasar keuangan (hot money) dan menggantikannya dengan dana asing berjangka panjang.

Selain itu, kata dia, Gubernur BI baru, harus mampu mendorong pemerintah atau kementerian di sektor rill agar mampu memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan, melalui kebijakan di sektor perdagangan.

"Itu adalah beberapa yang menjadi penyebab risiko domestik. Memang banyak yang bukan wewenang Gubernur BI, tapi Gubernur BI bisa mendorong itu," ujar dia.

Rizal menilai, sangatlah tidak tepat apabila BI membandingkan rasio utang pemerintah dengan Produk Domestik Bruto (Debt to GDP Ratio) Indonesia dengan Amerika Serikat (AS). Menurutnya, perbandingan itu sangat tidak proposional dan dapat memberikan pemahaman yang keliru.

"Debt to GDP Indonesia yang sebesar 29 persen tidak bisa dibandingkan dengan AS. AS adalah negara satu-satunya di dunia yang dapat memproduksi dolar AS dan menjualnya ke negara lain. Sementara Indonesia apakah bisa melakukan itu dengan rupiahnya?" ujar dia. [tar]

Komentar

x