Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 23 Juli 2018 | 12:56 WIB

Emas Hitam Masih Sandaran Provinsi Kaltim

Oleh : - | Rabu, 28 Maret 2018 | 10:11 WIB
Emas Hitam Masih Sandaran Provinsi Kaltim
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Balikpapan - Sepanjang 2017, batubara masih menjadi andalan bagi Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Ekspor melahirkan catatan devisa yang cukup besar.

"Nilai ekspornya (batu bara) mencapai 9,73 miliar dolar AS," kata Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Provinsi Kaltim, Elvina di Balikpapan, Selasa (27/3/2018).

Bersama dengan komoditas minyak dan gas (migas), batubara mendominasi hingga 88,9% dari seluruh ekspor produk dari Kalimantan Timur. Nilai ekspor migas tercatat US$4,2 miliar.

Seperti semula, komoditas batu bara kebanyakan dikirim ke China, India, Filipina, Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang.

Menurut data yang dihimpun, migas berasal dari sumur-sumur yang diusahakan Pertamina Hulu Energi di Wilayah Kerja Mahakam, Chevron Indonesia Company, dan VICO di Muara Badak Kutai Kartanegara, termasuk gas yang diolah oleh PT Badak NGL di Bontang.

Elvina menjelaskan, komoditas nonmigas yang diekspor adalah hasil kayu olahan, hasil industri kimia, produk perikanan dan kelautan, hasil hutan ikutan, produk perkebunan dan pertanian, dan industri lainnya dengan total nilai ekspor US$13,228 juta.

Secara keseluruhan, ekspor Kaltim pada 2017 tercatat US$17,4 miliar, mengalami kenaikan 31,5% ketimbang 2016. "Karena harga batu bara membaik di pasar internasional," kata Elvina.

Saat ini, harga batu bara sudah kembali mencapai US$100 per ton, dari semula saat terpuruk hingga hanya sekitar US$30 per ton.

Seiring membaiknya harga batu bara itu, sudah jalan-jalan poros Kalimantan Timur mulai ramai kembali transportasi alat-alat berat dan suku cadangnya yang menjadi alat produksi pertambangan.

Di sisi lain, Kalimantan Timur memiliki sejumlah produk lain yang diekspor melalui pelabuhan di Surabaya atau Jakarta. "Semisal hasil laut seperti teripang atau udang, dan kepiting, yang harus diekspor dari Surabaya atau Jakarta," kata Elvina.

Dalam hubungannya dengan pelayaran direct call yaitu layanan kapal peti kemas langsung ke Balikpapan, ia meyakini akan berdampak terhadap peningkatan nilai ekspor Kaltim. "Oleh karena itu, target ekspor 2018 ditingkatkan 15 persen dari realisasi tahun 2017," tambah Elvina.

Kabid Perdagangan Luar Negeri ini juga mengatakan pemerintah siap memfasilitasi dan membina para pengusaha di Kaltim, terutama mereka yang memiliki potensi ekspor sehingga mampu memanfaatkan fasilitas direct call di Kariangau Kaltim Terminal. Saat ini, ada 108 eksportir di Kaltim dengan komoditas beragam, mulai dari migas dan batubara, hasil hutan, hasil budidaya tanaman pangan, hingga hasil laut. [tar]

Komentar

Embed Widget

x