Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 19 September 2018 | 20:52 WIB

Utang Bengkak dan Jurus Bela Diri Lapangan Banteng

Rabu, 4 April 2018 | 01:29 WIB

Berita Terkait

Utang Bengkak dan Jurus Bela Diri Lapangan Banteng
Direktur Strategi dan Portofolio Pembiayaan Kemenkeu, Scenaider Siahaan - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Gaduh utang pemerintah sebesar Rp4.034,8 triliun memang sudah mereda. Kini pihak kementerian keuangan (kemenkeu) kembali membela diri.

Direktur Strategi dan Portofolio Pembiayaan Kemenkeu, Scenaider Siahaan, mengatakan, utang pemerintah diperlukan untuk menjalankan fungsi pemenuhan belanja prioritas, seperti infrastruktur dan sumber daya manusia. Keduanya tidak bisa ditunda.

Dalam diskusi yang diselenggarakan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni) di Jakarta, Selasa (3/4/2018), Scenaider mengatakan, apabila belanja prioritas ditunda maka mengakibatkan biaya yang lebih besar di masa datang.

Ia mengatakan, belanja pemerintah saat ini, dialokasikan bagi peningkatan produktivitas dan kualitas masyarakat melalui investasi sumber daya manusia, fasilitas kesehatan, dan pendidikan. "Sekarang banyak yang sudah terbebas dari buta huruf, sehingga kualitas sumber daya manusia di Indonesia sudah semakin bagus," kata Scenaider.

Ia berpendapat, kualitas masyarakat yang meningkat akan mampu menghasilkan barang dan jasa yang dapat mendukung pertumbuhan perekonomian. "Hal tersebut kemudian akan mampu meningkatkan penerimaan perpajakan dan itu dipakai untuk membayar utangnya. Dengan pajak yang sekarang kami memandang masih aman, nanti ke depan akan lebih sehat lagi," tutur Scenaider.

Menurut catatan Kemenkeu, posisi utang pemerintah pada akhir Februari 2018 mencapai Rp4.034,8 triliun dengan rasio utang 29,2% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Komposisi utang pemerintah tersebut terdiri dari surat berharga negara (SBN) Rp3.257,26 triliun (80,73 persen) dan pinjaman Rp777,54 triliun (19%). "Dulu sumber utamanya adalah dari pinjaman, sekarang semakin tambah dominan SBN karena pinjaman punya keterbatasan tidak bisa memenuhi kebutuhan kita dalam pembangunan," ujar Scenaider. [tar]

Komentar

Embed Widget
x