Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 22 November 2018 | 04:06 WIB

Pemerintah Klaim sudah Matang Kelola Utang

Oleh : M Fadil Djailani | Senin, 9 April 2018 | 21:09 WIB

Berita Terkait

Pemerintah Klaim sudah Matang Kelola Utang
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan (Dirjen PPR), Luky Alfirman - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan (Dirjen PPR), Luky Alfirman mengatakan bahwa saat ini Pemerintah mengelola utang dengan hati-hati, tepat sasaran dan terencana dengan matang.

"Utang itu adalah satu instrumen, komponen yang ada di APBN. Kalau belanjanya lebih besar dari penerimaan, kita akan mengalami apa yang disebut dengan defisit. Defisit itu kemudian ditutupi salah satunya dengan utang. Jadi, yang perlu dipahami ketika kita melakukan utang, semua sudah ada, sudah terencana," kata Luky, Senin (9/4/2018).

Luky juga menegaskan bahwa yang paling penting adalah kebijakan utang yang diambil oleh Pemerintah tersebut dialokasikan di tempat yang tepat, memberikan manfaat yang sebesar-besar bagi masyarakat dan dikelola secara hati-hati.

"Jadi, kita buat apa sih (utang)? Lihat efektifitas dan optimalitas struktur belanja kita yang sifatnya investasi. Dua, yaitu infrastruktur dan SDM (sumber daya manusia). Benefitnya baru dirasakan di masa yang akan datang," katanya.

Terkait dengan kekhawatiran beberapa pihak tentang kemungkinan utang Pemerintah default, dirinya menjelaskan bahwa posisi utang Pemerintah saat ini masih relatif aman. Jumlah akumulasi utang saat ini masih di bawah 30%, jauh dari batas maksimal threshold sebesar 60% dari PDB (Product Domestic Bruto).

"Akumulasi utang itu maksimal 60% dari PDB. (Saat ini) Rasio utang kita dengan PDB kita baru mencapai 29,2%. Kita akan tetap menjaga itu terus di bawah 30%. Jadi, dari segi ukuran kemampuan kita (untuk membayar utang kembali) insya Allah masih sangat sangat aman," tegas Dirjen PPR.

Dari opini di masyarakat, seolah-olah surat utang Indonesia dikuasai pihak asing dan kemungkinan terjadinya capital outflow. Namun Luky menepis kekhawatiran tersebut dengan menyatakan pembelian surat berharga negara oleh investor asing mengindikasikan kepercayaan negara lain terhadap fundamental ekonomi Indonesia.

Selain itu, profil investor tersebut adalah long-term investors bukan spekulan. Namun demikian, Pemerintah tetap berhati-hati dan prudent dalam mengelola utang tersebut dan menyiapkan payung pencegahan terjadinya krisis ekonomi.

"Kalau kita lihat profil dari investor asing, sebagian besar ternyata mereka adalah long-term investors, bukan sifatnya spekulan. Kebanyakan (mereka) adalah bank sentral negara lain. Namun kita tetap waspada. Kita selalu menyiapkan payung jika hal itu (krisis ekonomi) terjadi. Kita lebih banyak menekankan pada pencegahan," jelasnya.

Dijelaskan pula bahwa Pemerintah telah melakukan pengelolaan utang secara transparan sehingga wartawan maupun masyarakat dapat ikut pula melihat dan mengawasinya. [hid]

Komentar

Embed Widget
x