Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 18 Oktober 2018 | 17:37 WIB

Pasar Lebih Tertarik Beras Ramping

Rabu, 11 April 2018 | 20:58 WIB

Berita Terkait

Pasar Lebih Tertarik Beras Ramping
(Foto: Kementan)

INILAHCOM, Majalengka - Beras ramping (slender) lebih banyak diminati dibandingkan berat bulat (bold). Harganya pun lebih tinggi sehingga memberikan banyak keuntungan bagi petani.

"Kami jual beras ramping (slender) ke pasar lebih mahal daripada beras bulat (bold), yaitu beras ramping seharga Rp 8.500/kg dan beras bulat hanya Rp 8.000/kg," kata Wawan Setiawan, pemilik PB Huda Perkasa, Majalengka, Rabu (11/4/2018).

Ia mengakui membeli gabah ramping dari petani lebih mahal. Berdasarkan pengalamannya, beras ramping juga bisa masuk kualitas premium dengan harga Rp9.000/kg, sedangkan beras bulat hanya bisa masuk kualitas medium dengan harga Rp8.030/kg.

Lebih lanjut Wawan menjelaskan bahwa beras ramping biasanya berasal dari varietas Ciherang, Mekongga, Inpari dan lain-lain. Sedangkan beras bulat berasal dari varietas Cibatu, Cilamaya Muncul dan lain-lain.

Semua varietas tersebut ditanam oleh petani Majalengka, meskipun Ciherang tetap merupakan varietas favorit petani. "Ciherang itu rasanya enak, produktivitasnya tinggi, dan harga jualnya bagus," kata Hasan petani dari Desa Ligung, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka.

Dr Indrastuti pemulia padi dari Balai Besar Litbang Padi, Sukamandi mengatakan, semua varietas tersebut di atas adalah produk Badan Litbang Pertanian kecuali Cibatu memang varietas lokal. Ada lagi varietas Batutegi, tanamannya tinggi, kokoh, malai panjang, lebat, daun agak lebar, jumlah butir per malainya banyak, dan gabahnya bulat.

Dalam hal rasa, lanjut Indrastuti, sebenarnya Ciherang (ramping) dan Cilamaya Muncul (bulat) sama-sama pulen dengan kandungan amilosa medium sekitar 20%. Hanya saja para pemilik pengilingan padi (RMU) lebih menyukai beras ramping karena umumnya RMU diseting untuk beras ramping. Kalau mau menggiling beras bulat maka perlu seting ulang yang memerlukan waktu kata Indrastuti menambahkan.

Wawan menambahkan, saat ini panen padi di Kabupaten Majalengka hampir selesai. Namun ia masih mendapat pasokan gabah dari kabupaten tetangga yaitu dari Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon.

Sementara pengusaha beras lainnya, Muhammad Yunus pemilik PB Sri Wulan mengatakan, pabrik beras tetap beroperasi hingga panen musim gadu nanti. "Meskipun kami harus cari gabah ke Jateng seperti Demak dan Kudus terlebih dahulu karena disana panen musim gadunya lebih awal," kata Yunus.

Keuntungan bisnis beras sebetulnya tidak terlalu besar, hanya sekitar Rp40-50/kg. "Kalau bisa untung hingga Rp100/kg itu sudah hebat," kata Haji Dadang Rahmana pemilik PB Sri Ratna.

Padahal bisnis ini memerlukan modal besar. Coba saja hitung bila membeli gabah 200 ton kering jemur petani (KA sekitar 16-17%) dengan harga Rp5.000/kg maka perlu modal sekitar Rp1 miliar. "Bila rendemen gabah ke beras sekitar 60% maka keuntungan tersebut hanya Rp5-6 juta," kata Dadang.

Prof. Dedi Nursyamsi Kepala Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Bogor sekaligus anggota Tim Sergap Jabar mengatakan, pengusaha beras memperoleh keuntungan bukan hanya dari selisih biaya penjualan dan biaya produksi beras tapi ada keuntungan lain. Para pengusaha beras umumnya memiliki RMU (rice miling unit), pengering (drier), kendaraan truk, dan lain-lain. Dengan demikian biaya produksi penggilingan, pengeringan, dan transportasi, dan lain-lain akan kembali ke kantong mereka sebagai jasa.

Lebih lanjut Dedi menjelaskan, para pengusaha beras juga mendapat keuntungan dari hasil samping (by product) RMU. Mereka bisa menjual dedak, bekatul, dan menir kepada para peternak itik untuk pakan.

Hanya saja hingga saat ini mereka belum bisa memanfaatkan limbah sekam padi. Dedi mengatakan bahwa sekam padi bisa dibuat pupuk biosilika. Pupuk ini sangat diperlukan tanaman padi terutama di tanah-tanah tua seperti Oxisol, Ultisol, dan lain-lain. Di Taiwan, sekam padi dibuat biochar untuk energi pemanas drier saat pengeringan padi. "Bahkan RMU yang kapasitasnya besar bisa menjual sebagian biochar nya ke PLN-nya Taiwan," kata Dedi menambahkan.[*]

Komentar

x