Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 25 April 2018 | 17:37 WIB
 

Akademisi Sebut Sawit Bukan Pemicu Deforestasi

Oleh : - | Jumat, 13 April 2018 | 08:09 WIB
Akademisi Sebut Sawit Bukan Pemicu Deforestasi
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Bogor - Kalangan akademisi menilai kerusakan hutan (deforestasi) lebih disebabkan mismanajemen dalam pengelolaan hutan. Jadi, bukan karena industri sawit yang berkembang pesat di tanah air.

Hal tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Sawit dan Deforestasi Hutan Tropika di IPB International Convention Cente, Bogor, Jawa Barat, Kamis (12/4/2018).

Acara yang diinisiasi Pusaka Kalam bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan IPB Bogor, dibuka keynote speech Musdhalifah Machmud, Deputi Bidang Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian yang diwakili Asisten Deputi Kemenko Perekonomian Willistra Danny. Pembicara yang hadir antara lain Prof Dodik Nurrochmat, Dr Sudarsono Soedomo, Prof Yanto Santosa, dan Prof Supiandi Sabihamm.

Paparan Prof Supiandi Sabihamm menyatakan, sawit merupakan tanaman yang bersifat strategis dalam menopang kehidupan masyarakat yang berhasil dan berdaya guna, namun harus dikelola dengan bijaksana. "Masyarakat lebih banyak beralih ke sawit karena sawit mampu menghasilkan yang dapat memberikan hidup lebih layak," kata Supiandi.

Atas tuduhan deforestasi, Supiandi dengan tegas menyatakan bahwa sawit bukan penyebab deforestasi secara umum. "Kerusakan hutan lebih banyak mismanajemen saat pengelolaan lahan untuk pembangunan dan bisnis kayu secara besar-besaran karena sawit sudah menempati hutan yang rusak dan lahan pertanian," ucap Supiandi.

Prof Yanto Santosa menerangkan, sejak 2006, industri sawit di tanah air, selalu diterpa isu deforestasi karena lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan peneliti membayangkan komoditas tersebut ditanam di hutan primer. Dan, sawit dinilai menurunkan keanekaragaman hayati. "LSM internasional bersumber dari LSM di Indonesia seperti Greenpeace, Sawit Watch, dan Walhi. Tudingan deforestasi berulang terus, lalu tahun 2017, parlemen Eropa menuding hutan berkurang disebabkan peningkatkan produksi dan konsumsi komoditi salah satunya sawit," kata Yanto.

Masih kata Yanto, sampai 1996, definisi deforestasi masih ngawur karena secara definisi belum jelas sehingga data berubah-ubah. "Yang menjadi pertanyaan perkebunan sawit siapa atau yang mana lahannya hasil deforestasi jika tudingan berdasarkan hasil pengamatan sampling apakah valid mengatakan kebun sawit Indonesia hasil deforestasi," paparnya.

Hal itu, tandas Yanto, tidak bisa disebut deforestasi karena setiap kebun punya riwayat berbeda bergantung kebijakan wilayah dan adat istiadat setempat. Deforestasi dapat bermakna positif apabila menggunakan RTRW, karena RTRW wujud kedaulatan bangsa yang melibatkan semua komponen bangsa. Sementara deforestasi merugikan jika melanggar RTRW yang berlaku.

Sementara, Asisten Deputi Kemenko Perekonomian, Willistra Danny mengatakan, pemerintah menargetkan Peraturan Presiden (Perpres) standar sawit berkelanjutan Indonesia atau Indonesia Sustainability Palm Oil (ISPO) bisa dirampungkan pada pertengahan 2018.

Menurut Ketua Tim Kelompok Kerja (Pokja) ISPO tersebut, pembahasan ISPO sudah berjalan sejak awal 2016 atau selama dua tahun dan hingga saat ini pihaknya terus melaporkan perkembangannya ke Presiden. "Perpres segera dilakukan, targetnya pertengahan tahun ini atau paling lambat akhir 2018," kata Willistra.

Dia menjelaskan, salah satu pembahasan yang dimasukkan dalam Perpres ISPO tersebut nantinya adalah aspek keterlacakan atau treacibility terhadap produk minyak sawit (crude palm oil/CPO) sehingga diketahui asal-usul produksinya, produsen (petani, perusahaan swasta atau perusahaan negara) bahkan hingga luasan perkebunan produsen CPO tersebut.

Pentingnya memasukkan aspek treacibility, lanjut dia, untuk dapat memperkuat data base sehingga memudahkan dalam penyusunan kebijakan maupun membuat perencanaan. "Selain itu dengan treacibility maka data akan lebih kredibel serta dalam upaya perbaikan tata kelola industri sawit," kata Willistra. [tar]

Komentar

 
x