Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 19 September 2018 | 15:03 WIB

Kisruh Impor Garam Industri, Ini Kata Kemenperin

Oleh : Indra Hendriana | Jumat, 13 April 2018 | 16:55 WIB

Berita Terkait

Kisruh Impor Garam Industri, Ini Kata Kemenperin
Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Haris Munandar - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Pembatasan impor bahan baku berpotensi mengganggu industri yang export oriented. Kalau dibiarkan, Indonesia bakal tertinggal dalam menghadapi revolusi industri 4.0 yang mengandalkan otomatisasi dan standarisasi produk.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Haris Munandar, menjelaskan, keberadaan bahan baku menjadi salah satu persoalan industri di Indonesia. Untuk memecahkannya tidaklah mudah lantaran harus melahirkan kesepakatan di lintas kementerian atau lembaga. "Tidak mungkin industri tidak ada bahan baku. Sekarang ada masalah bahan baku karena ada aturan-aturan kita yang menghambat," kata Haris di Jakarta, Jumat (13/4/2018).

Kata Haris, saat ini, Presiden Joko Widodo selalu memngingatkan agar seluruh kementerian dan lembaga, menghilangkan ego sektoral. Berbagai aturan yang menghambat investasi dan ekspor, harus dihilangkan.

Salah satu contoh yang mengemuka adalah perizinan importasi garam industri. Tahun ini, Kementerian Perindustrian meminta Kementerian Perdagangan segera mengeluarkan izin impor garam industri. Sebab, banyak pelaku industri yang menjerit karena pasokan bahan baku garam telah menipis.

Hanya saja, Kementerian Perdagangan tidak juga segera menuruti permintaan dari Kementerian Perindustrian. "Salah satu persoalan kita adalah bahan baku, yang dimulai dari garam. Permasalahan ketersedian bahan baku ini terjadi karena adanya aturan-aturan yang menghambat, seharusnya ini yang kita dorong," imbuh Haris.

Permasalahan lainnya menyasar bahan baku untuk Industri Hasil Tembakau (IHT). Kementeriaan Perdagangan mengeluarkan Permendag Nomor 84 Tahun 2017 tentang ketentuan impor tembakau. Padahal, pasokan tembakau di dalam negeri belum mampu mencukupi kebutuhan industri. [ipe]

Komentar

x