Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 22 April 2018 | 08:20 WIB
 

Dua Bulan Tekor, Neraca Perdagangan Maret Rebound

Oleh : - | Sabtu, 14 April 2018 | 05:09 WIB
Dua Bulan Tekor, Neraca Perdagangan Maret Rebound
Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Batam - Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo menyebut kabar baik. Yakni, neraca perdagangan Indonesia pada Maret
2018 berbalik menjadi surplus US$1,1 miliar. Dua bulan sebelumnya selalu defisit.

Pada Januari 2018, misalnya, neraca perdagangan mengalami defisit hingga US$680 juta. Kemudian turun menjadi US$120 juta pada Februari 2018. "Di Maret ini akan ada surplus kira-kira 1,1 miliar dolar AS. Jadi neraca perdagangan kita di kuartal I 2018 akan positif," ujar Agus di Batam, Jumat
(13/4/2018).

Dengan perkiraan surplus yang cukup besar di Maret 2018, maka akan mengkompensasi defisit neraca perdagangan di Januari dan Februari 2018. Sehingga, secara keseluruhan pada kuartal I-2018 (Januari-Maret), indikator ekspor-impor berada dalam level positif.

Agus memerkirakan, kinerja neraca perdagangan dalam neraca transaksi berjalan (current account) di kuartal I-2018 masih akan mencatat defisit di level 2% dari Produk Domestik Bruto (PDB). "Jadi sedikit ada tekanan tapi nanti akan kembali terkendali karena secara umum selama transaksi berjalan terhadap PDB itu di bawah tiga persen kami melihat itu masih sehat," ujar dia.

Namun, Agus belum mengungkapkan penyebab surplus neraca perdagangan pada Maret 2018 itu. Namun jika melihat indikator ekspor seperti pemulihan ekonomi negara negara mitra dagang, kemudian indeks produksi industrial, kinerja ekspor memang berpeluang membaik pada Maret 2018 ini.

Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) pada kuartal IV-2017 adalah 2,6%, membaik dibandingkan kuartal sebelumnya yaitu 2,3%. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Jepang pada kuartal IV- 2017 mencapai 2%, meningkat dibandingkan kuartal III-2017 sebesar 1,9%.

Agus mengakui, meski ekspor meningkat, impor juga mengintili naik. Penyebabnya, ambisi tinggi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan memacu kenaikan laju impor barang baku dan barang modal yang masih mengandalkan sumber manufaktur luar negeri. "Impor bahan baku dan bahan antara yang cukup meningkat untuk mengisi dan memenuhi kebutuhan manufakturing untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2018," ujar bos BI yang sebentar lagi lengser ini. [tar]


Komentar

 
Embed Widget

x