Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 20 April 2018 | 17:57 WIB
 

Inilah Terobosan KLHK Atasi Persoalan Limbah Medis

Oleh : - | Minggu, 15 April 2018 | 17:07 WIB
Inilah Terobosan KLHK Atasi Persoalan Limbah Medis
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Terbatasnya jumlah jasa pengolah limbah medis dibandingkan dengan jumlah rumah sakit menyebabkan penumpukan limbah medis di sejumlah daerah. Saat ini, terdapat enam jasa pengolah limbah medis, terdiri dari lima di pulau Jawa dan satu di Kalimantan dengan total kapasitas 134,40 ton/hari.

Berdasarkan data Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi), estimasi timbulan limbah medis mencapai sekitar 366 ton/hari, yang berasal dari 2.813 unit Rumah Sakit. Sebanyak 86 (delapan puluh enam) di antaranya, memiliki insinerator yang memenuhi standar teknis yang mampu mengolah sekitar 68 ton/hari.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 (PSLB3), Rosa Vivien Ratnawati, menyatakan, hal ini menunjukan masih kurang ketersediaan fasiitas pengolahan limbah medis di Indonesia. Pemerintah saat ini tengah melakukan proses pengembangan fasilitas pengolahan limbah medis baik berupa jasa maupun bukan jasa. "Dalam jangka waktu 6 (enam) bulan kedepan, fasilitas pengolahan limbah medis tersebut diproyeksikan sudah dapat beroperasi dengan baik," ujar Rosa Vivien, di Jakarta, (13/4/2018) .

Suatu terobosan telah ditempuh KLHK untuk penanganan tumpukan limbah medis sebagai upaya jangka pendek melalui pengolahan di industri semen. Industri semen memiliki fasilitas kiln (tanur) yang memadai untuk memusnahkan limbah medis dengan temperatur berkisar 1.200 derajat Celsius - 1.600 derajat Celsius dan fasilitas pengendali pencemaran udara serta fasilitas feeding yang memadai. Industri semen yang telah memenuhi aspek teknis bersedia mengolah tumpukan medis melalui fasilitas tanur karena tidak mempengaruhi kualitas produk semen yang dihasilkan.

Melalui keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.176/Menlhk/Setjen/PLB.2/4/2018 perihal Penanganan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan (fasyankes), KLHK menunjuk 4 (empat) perusahaan yang bergerak di bidang industri semen untuk membantu pengolahan limbah medis. Keempat perusahaan tersebut yaitu PT. ITP Tbk, PT. HI Tbk, PT. SP, dan PT. CG.

Rosa Vivien mengungkapkan, empat industri semen tersebut bersedia dan memiliki fasilitas yang memadai dalam menangani limbah medis yang menumpuk dan harus segera diolah. "Masa waktu pengolahan Limbah B3 dari Fasyankes di industri semen selama enam bulan sejak Keputusan diterbitkan tanggal 9 April 2018, dalam kurun waktu tersebut diharapkan seluruh tumpukan limbah medis saat ini dapat ditangani," tambahnya.

Keempat perusahaan tersebut wajib melaporkan tata kelola kegiatan pengolahan limbah B3 paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) bulan kepada KLHK dengan tembusan Gubernur dan Bupati/Walikota sesuai lokasi industri semen. "Perusahaan juga wajib melakukan penanggulangan serta pemulihan fungsi lingkungan hidup dalam hal terjadi pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup", Rosa Vivien menjelaskan.

Limbah medis yang diolah oleh industri semen adalah limbah klinis yang memiliki karakteristik infeksius dengan kode limbah A337-1. Limbah infeksius menjadi prioritas karena berisiko menyebabkan penularan penyakit atau infeksi Nosokomial (HAIs) sehingga wajib segera dimusnahkan. Limbah medis yang akan diolah itu hanya yang berasal dari fasyankes yang dihentikan sementara kerja samanya dalam penerimaan Limbah B3 oleh jasa pengolah Limbah B3. [*]

Komentar

 
x