Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 20 November 2018 | 23:45 WIB

Industri Minyak Sawit Diganggu Supermarket Inggris

Senin, 16 April 2018 | 01:29 WIB

Berita Terkait

Industri Minyak Sawit Diganggu Supermarket Inggris
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Sebuah grup supermarket Inggris, Iceland Co menolak minyak sawit di akhir tahun ini. Keputusan berbau kampanye hitam terhadap minyak sawit dan turunannya, jelas menyesatkan konsumen global.

Atas tindakah ini, Council of Palm Oil Producer Countries (CPOPC) atau Dewan Negara Produsen Kelapa Sawit yang beranggotakan 10 negara melancarkan protes keras. Iceland Co dinilai diskriminatif dan mendiskreditkan citra positif kelapa sawit di Eropa.

Berdasarkan rilis kepada media di Jakarta, Minggu (15/4/2018), Direktur Eksekutif CPOPC, Mahendra Siregar melayangkan protes keras kepada kepada Managing Director Iceland Foods Ltd, Richard Walker. "CPOPC menilai kebijakan Iceland Co akan menyesatkan konsumen secara global. Perlu disadari, produktivitas minyak sawit adalah yang paling tinggi dibandingkan minyak nabati yang lain," tegas Mahendra.

Kata Mahendra, minyak sawit adalah minyak nabati yang paling berkelanjutan. Selain itu, minyak sawit merupakan faktor kunci dalam melindungi lahan global, terutama karena permintaan minyak nabati terus tumbuh. Semisal, rape seed, menghasilkan 0,3 ton minyak per hektar lahan, kedelai dan bunga matahari 0,6 ton per hektar. Sementara minyak sawit, saat ini, mampu produksi 6 ton per hektar lahan.

"Karena itu, kampanye penghentian penggunaan minyak sawit oleh Iceland Co justru akan menyebabkan perubahan penggunaan lahan baru yang lebih besar untuk menggantikan jumlah lahan pertanian kelapa sawit yang sama, yang tidak mungkin dalam skala global apalagi di Eropa. Dari perspektif negara produsen minyak sawit," kata Mahendra.

Inilah, kata dia, yang dianggap sebagai sifat diskriminatif yang justru menyebabkan degradasi tanah yang parah, perusakan flora dan fauna, pencemaran air tanah dan lautan, serta peningkatan emisi CO2 dari penggunaan lahan alternatif.

Selain faktor-faktor di atas, menurut dia, kampanye penghentian penggunaan minyak sawit oleh Iceland Co juga akan memicu konsumsi air yang lebih besar. Sebab, produksi minyak sawit terbukti menghemat lebih banyak air dibanding minyak nabati lainnya.

Iceland Co merupakan salah satu jaringan supermarket terbesar di Eropa dengan total jumlah gerai mencapai 857 unit di seluruh Eropa, mayoritas di Inggris. Iceland Co juga memproduksi dan menjual makanan beku, termasuk makanan siap saji dan sayuran. Perusahaan ritel ini memiliki sekitar 2,2% pangsa pasar makanan di Inggris.

"Kami percaya bahwa CPOPC dan Iceland Co dapat berbagi kepedulian yang sama terhadap lingkungan. Tentu saja, negara-negara penghasil kelapa sawit ingin melindungi warisan alam mereka sendiri selama beberapa generasi yang Anda sebutkan sebagai permata mahkota planet kita," ucap Mahendra.

Dia menegaskan upaya yang dilakukan untuk mencapai keberlanjutan dalam minyak sawit cukup besar. Presiden Indonesia Joko Widodo sedang memelopori kampanye penanaman kembali varietas kelapa sawit unggul di lahan pertanian yang ada untuk mendukung petani kecil dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan mereka.

Mahendra mempertanyakan kebijakan Iceland Co yang percaya kepada isu bahwa 85% konsumen mereka menentang penggunaan minyak sawit. "Saya tidak terkejut dengan angka ini mengingat kampanye bersama di Uni Eropa yang memilih untuk membedakan minyak sawit dari minyak nabati lainnya. Namun, CPOPC menganggap bahwa klaim yang dibuat terhadap minyak sawit menyesatkan konsumen," kata Mahendra.

Dalam surat protesnya, CPOPC berharap bisa mengundang Managing Director Iceland Foods Ltd, Richard Walker, untuk berdiskusi dan melihat langsung tata kelola perkebunan kelapa sawit di Indonesia. [ipe]

Komentar

x