Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 16 Juli 2018 | 08:00 WIB
 

Sejak 2002, Bisnis Hulu Migas Indonesia Seret

Oleh : M Fadil Djailani | Senin, 16 April 2018 | 13:30 WIB
Sejak 2002, Bisnis Hulu Migas Indonesia Seret
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), menyebutkan, kegiatan hulu migas Indonesia masuk era berat sejak 2002.

Pasalnya, mulai tahun tersebut, produktivitas migas berjalan njomplang. Di mana, kebutuhan minyak dalam negeri lebih jumbo ketimbang produksi alias lifting. Alhasil, ketergantungan terhadap impor minyak mentah atawa crude oil menjadi sulit dihindari.

"Karena kebutuhan crude oil kurang, kita harus impor terus. Ini yang membebani negara," kata Sekretaris SKK Migas, Arif S Handoko dalam sebuah Dialog Emiten Migas di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (16/4/2018).

Kata Arief, kondisi tersebut seharusnya tak perlu terjadi jika kegiatan eksplorasi lapangan minyak baru, bisa dilakukan. Artinya ada temuan lapangan migas baru. Saat ini, berdasarkan data SKK Migas, tersisa 74 basin atau cekungan yang potensial untuk dieksplorasi di Indonesia. "Ini peluang bagi industri hulu untuk pacu eksplorasi. Peluang cukup besar karena ada 74 basin belom di eksplorasi," kata Arief.

Arief bilang, pemerintah terus mendorong agar investasi migas anyar bisa tumbuh subur di tanah air. Dari 128 cekungan yang ada, baru 18 yang produksi, 12 pengeboran dengan penemuan, 24 pengeboran tanpa penemuan, dan yang belum mengebor adalah yang terbanyak yakni 74 cekungan.

Diakui, investasi di sektor hulu migas, sangat bergantung kepada perkembangan harga minyak mentah global. Di samping itu, masih terlihat ketimpangan dalam alokasi investasi terhadap Wilayah Kerja (WK) eksploitasi dengan WK eksplorasi.

Asal tahu saja, pemerintah menawarkan 26 Wilayah Kerja (WK) migas. Targetnya, investasi sektor migas bisa sebesar US$16 Miliar. Untuk meraih target tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) rajin melakukan roadshow guna mempromosikan 26 WK migas tersebut.

"Target investasi migas tahun ini US$16 Miliar. Memang kunjungan ke luar negeri impact-nya jangka panjang. Buat kami yang penting mereka (calon investor) ambil dulu yang 26 WK ini, kemudian kontrak, eksplorasi, eksploitasi. Baru nanti ada manfaatnya," kata Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, beberapa waktu lalu.

Dalam kunjungannya ke tiga negara yaitu Aljazair, Perancis dan Texas, Arcandra sempat menemui perwakilan perusahaan migas kelas dunia. Salah satunya dengan Exxon Mobile untuk menawarkan ke-26 WK Migas tersebut. "Mereka berjanji untuk melihat 26 WK yang kita tawarkan. Tapi di bisnis oil and gas ini, keputusannya kita serahkan kepada mereka," kata dia.

Pemerintah telah mengumumkan penawaran wilayah kerja (WK) migas 2018 dengan menggunakan skema kontrak bagi hasil gross split, sesuai Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) No 52 Tahun 2017. [ipe]

Komentar

x