Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 21 Juli 2018 | 06:39 WIB
 

Mudahnya Impor Produk Petrokimia,DPR Sentil Mendag

Oleh : - | Selasa, 17 April 2018 | 13:09 WIB
Mudahnya Impor Produk Petrokimia,DPR Sentil Mendag
Wakil Ketua Komisi VI DPR, Dito Ganinduto - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Wakil Ketua Komisi VI DPR, Dito Ganinduto meminta impor produk petrokimia dilakukan tidak serampangan alias sembrono. Untuk melindungi industri sejenis di dalam negeri.

"Jangan sampai pasar dalam negeri dibanjiri oleh produk-produk petrokimia impor yang sebenarnya industri di dalam negeri sudah mampu atau dapat didorong untuk mampu menyediakannya," kata Dito di Jakarta, Selasa (17/4/2018).

Hal itu dikatakan Dito menanggapi rencana Menteri Perdagangan Enggartyasto Lukkita akan mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) Perdagangan Nomor 8 Tahun 2018 tentang Impor Bahan Baku Plastik.

Dalam beleid tersebut menyatakan bahwa impor bahan baku plastik, tidak lagi membutuhkan rekomendasi Kementerian Perindustrian. Dikhawatirkan kebijakan ini membuat industri dalam negeri banyak yang gulung tikar.

Dito sependapat dengan Sekjen Kemenperin, Haris Munandar yang memaparkan bahwa kemudahan impor jangan sampai memicu industri di dalam negeri tidak bisa mengembangkan kegiatan bisnisnya. Lantaran produk impor sudah memenuhi pasar dalam negeri.

"Kemudahan impor tidaklah harus diartikan untuk memperbanyak impor, apalagi untuk produk-produk industri petrokimia yang seharusnya bisa dikembangkan di dalam negeri. Kami tidak ingin bahwa industri dalam negeri lebih banyak mendatangkan barang dari luar negeri dan tidak mengembangkan industri petrokimianya di dalam negeri," ujar mantan anggota Komisi VII DPR itu.

Apalagi, tambah politisi senior Partai Golkar ini, permintaan produk hasil industri kimia dan petrokimia di dalam negeri, masih cukup besar. Dan, bahan baku untuk pengembangan industri tersebut, banyak tersedia di tanah air.

Dikatakan Dito, sesungguhnya Indonesia sudah terlambat mengembangkan industri petrokimia di dalam negeri. Indonesia terlalu lama bergantung kepada impor produk petrokimia dari sejumlah negara di ASEAN, semisal Vietnam, Thailand, ataupun Singapura. Padahal, bahan bakunya tersedia berlimpah di Indonesia.

"Kita dianugerahi sumber daya minyak dan gas, serta produksi batubara dan kelapa sawit, yang melimpah dan dapat dikembangkan menjadi industri petrokimia dan kimia. Produk-produk kimia dan petrokimia itu sangat dibutuhkan di dalam negeri sebagai substitusi impor dan bahkan bisa dapat diekspor. Sementara, selama ini, sudah terlalu banyak yang kita ekspor hanya sebagai bahan mentah saja," kata Dito.

Kata dia, inisiatif "Making Indonesia 4.0" yang diluncurkan Presiden Joko Widodo pada 4 April 2018 di Jakarta, sudah memasukkan industri kimia sebagai salah satu dari lima industri yang menjadi prioritas untuk dikembangkan.

"Kami sepakat dan mendukung bahwa industri petrokimia termasuk bagian dari industri kimia yang akan didorong pengembangannya itu, untuk menciptakan nilai tambah dari rantai industri, sekaligus untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri," ujarnya.

Oleh karena itu, Dito menegaskan lagi bahwa kemudahan impor tidak boleh diartikan mempermudah impor produk-produk, yang apalagi patut diduga mengandung unsur dumping misalnya karena kelebihan kapasitas produksi di negeri asalnya.

Ia melanjutkan impor produk petrokimia tetap dapat dilakukan dengan semangat memajukan industri di dalam negeri terlebih dahulu. "Kami ingin industri petrokimia di dalam negeri didorong dan dipermudah pembangunannya, termasuk dengan memberikannya peluang untuk tumbuh besar lebih dahulu dan tidak langsung dipersaingkan dengan produk-produk impor," ujar Dito. [tar]

Komentar

x