Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 16 Desember 2018 | 14:19 WIB

Minyak Dunia Mahal, DPR Tunggu Keluhan Pertamina

Oleh : Indra Hendriana | Rabu, 18 April 2018 | 01:29 WIB

Berita Terkait

Minyak Dunia Mahal, DPR Tunggu Keluhan Pertamina
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Harga minyak dunia diprediksi meroket hingga di atas US$80 per barel. Kondisi ini tentunya memengaruhi keputusan pemerintah menahan harga BBM dan listrik hingga 2019.

Wakil Ketua Komisi VII DPR, Eni Maulani Saragih, mengingatkan, tren kenaikan harga minyak dunia berdampak kepada beban keuangan PT Pertamina (Persero).

Lantaran, ya itu tadi, pemerintah berupaya tidak menaikan (menahan) harga BBM dan listrik. "Kalau tidak naik harganya ya kami ingin lihat apa yang dilakukan Pertamina. Terobosan apa yang dilakukan Pertamina yang akhirnya kuat menahan BBM tidak naik sampai 2019. Saya sendiri engga bisa mikir gitu ya, kayaknya engga mungkin. Tapi kita lihat saja nanti," kata Eni di Jakarta, Selasa (17/4/2018).

Kata Eni, adalah sebuah keniscayaan apabila harga BBM naik. Apalagi, pemerintah menggunakan patokan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Palm/ICP sebesar US$48 per barel. Kenyataannya, ICP diprediksi berada di rentang US$55-US$60 per barel.

"Nanti kita lihat karena dengan harga crude sekian dan harus bertahan sampai 2019, itu luar biasa. Nah, kita lihat terobosan apa yang dilakukan pemerintah," ujar Eni.

Dengan kondisi seperti ini apakah Pertamina akan merugi? Lagi-lagi, Eny enggan berspekulasi. "Ya nanti lihat saja. Kan pertamina belum ngomong," ujar dia.

Pemerintah sebelumnya pastikan tidak akan menaikan bahan bakar minyak penugasan, yakni premium dan solar. Kedua jenis BBM itu, dipastikan tidak akan naik harga sampai 2019. Alasan pemerintah adalah menjaga daya beli yang belum pulih.

"BBM penugasan RON 88 (premium) harga tetap tidak naik, ini semakismal yang bisa. Kalau nanti harga minyak USD100 per barel gimana, ya ditinjau lagi. Pada prinsipnya tidak naik. Jadi jangan buat andai-andai saya baca tidak ngerti," kata Menteri ESDM Ignatius Jonan saat jumpa pers di kantornya, Jakarta, Senin (5/3/2018).

Menurut Jonan, keputusan tersebut sudah ketuk dalam sidang kabinet dengan Presiden Joko Widodo dan sudah diputuskan dalam paripurna. Jonan mengatakan keputusan ini tak terkait dengan tahun politik.

Sementara, harga minyak mentah Brent pada sesi penutupan pekan lalu, tercatat US$72,58 per barel. Ada kenaikan 8%. Kenaikan harga juga terjadi pada minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) sebesar 8% menjadi US$67,39 per barel.Kenaikan mingguan kedua jenis minyak mentah acuan itu adalah yang terbesar sejak Juli 2017. [ipe]

Komentar

x