Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 24 Oktober 2018 | 06:48 WIB

Daya Beli Siaga Satu, CORE Prediksi Ekonomi Rendah

Selasa, 24 April 2018 | 16:09 WIB

Berita Terkait

Daya Beli Siaga Satu, CORE Prediksi Ekonomi Rendah
Direktur Eksekutif CORE, Mohammad Faisal

INILAHCOM, Jakarta - Di penghujung April 2018, Center of Reform on Economics (CORE) mencatat pertumbuhan ekonomi triwulan I hanya 5%.

Direktur Eksekutif CORE, Mohammad Faisal mengatakan itu saat menggelar temu media di Jakarta, Selasa (24/4/2018). Dia bilang, pencapaian target pertumbuhan ekonomi 5,4% sepanjang 2018, bakal menjadi sesuatu yang sulit.

Untuk itu, Faisal mengingatkan pemerintah dan instansi terkait, segera melakukan perbaikan kebijakan secara signifikan di triwulan berikutnya. "Dari sisi konsumsi, kami melihat konsumsi swasta belum pulih selama tiga bulan pertama khususnya konsumsi oleh golongan pendapatan menengah atas," kata Faisal.

Indikator yang menunjukkan masih lemahnya konsumsi swasta, kata dia, adalah penjualan ritel yang belum menunjukkan pemulihan. Pertumbuhan indeks penjualan ritel selama Januari-Februari 2018, masih minus hingga 0,38%.

Faisal memprediksi, pertumbuhan konsumsi rumah tangga bakal turun, atau lebih rendah dari pertumbuhan triwulan IV-2018 sebesar 4,97%. Sejalan dengan terkulainya penjualan ritel.

Menghadapi kondisi ini, CORE memperingatkan pentingnya pemerintah mendorong kebijakan yang dapat meningkatkan daya beli, serta memberikan stimulus terhadap belanja masyarakat.

Kemudian, Faisal juga menjelaskan tantangan yang dihadapi dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi tersebut adalah potensi pelemahan kinerja ekspor dan impor yang mengakibatkan melemahnya kontribusi net ekspor terhadap pertumbuhan PDB.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan secara kumulatif Januari-Maret 2018, mengalami surplus US$282,8 juta, lebih rendah dibandingkan periode sama di 2017 yang mencapai US$4,07 miliar.

CORE menilai pemerintah perlu mempercepat diversifikasi tujuan ekspor ke pasar nontradisional guna merespons kondisi proteksionisme dan perang dagang global.

Pada triwulan I-2018, ekspor ke negara-negara tujuan utama (ASEAN, China, AS, Jepang, India, Uni Eropa) mampu tumbuh 12,3%, namun ekspor ke negara nontradisional hanya tumbuh 1,4%. "Ini tantangan yang paling besar, kalau di tahun ini ada perlambatan net ekspor, maka sumber pertumbuhan ekonomi lain perlu dikejar," kata Faisal. [tar]

Komentar

x