Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 20 Agustus 2018 | 02:34 WIB

Kejayaan Bawang Putih Era 90-an Tinggal Kenangan

Oleh : Indra Hendriana | Rabu, 25 April 2018 | 18:27 WIB
Kejayaan Bawang Putih Era 90-an Tinggal Kenangan
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Produsi bawang putih di dalam negeri terus merosot signifikan. Jadi, wajarlah bila produksi tak bisa menutup permintaan. Alhasil, pemerintah terpaksa membuka keran impor.

Direktur Jenderal Holtikultura Kementerian Pertanian, Suwandi mengatakan, Indonesia pernah meraih kejayaan produksi bawang putih di sera 90-an. Namun kini sirna lantaran produksinya terus merosot.

"Kondisi perbawang-putihan sejak 25 tahun lalu, periode 1993-1995, luas tanam 21 ribu hektar, produksi 152 ribu ton. Waktu itu swasembada," kata Suwandi saat rapat dengan Komisi IV DPR, Jakarta, Rabu (25/4/2018).

Namun, lanjut dia, tren tersebut terus mengalami penurunan yang cukup drastis. Permasalahan itu datang karena lahan yang untuk ditanami bawang semakin sedikit. "Sehingga impornya semakin meningkat, seiring peningkatan impor, maka minat petani berkurang. Hasil akhir 2017 kemarin hanya 2 ribu hektare tanam panennya 19 ribu hektar," kata dia.

Kendati jumlah lahan kian sempit, Suwandi mengklaim hasil tanam bawang putih semakin meningkat. "Produktifitas menunjuk pada kinerja menjadi membaik dari 4 ton menjadi 8 ton per hektar," ujar Suwandi.

Guna mengantisipasi hal tersebut, Kementerian Pertanian membuat Permentan No 16/2017, para importir bawang putih diwajibkan melakukan pengembangan penanaman bawang putih dalam negeri dengan ketentuan bisa menghasilkan 5% dari volume permohonan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) per tahun.

Penanaman benih bawang putih oleh importir diharapkan bisa mendukung setidaknya 50% kebutuhan bawang putih dalam negeri pada 2019. Adapun total lahan bawang putih Indonesia di 2017, diperkirakan 5.143 hektar. Terdiri dari 1.020 hektar kewajiban importir, 1.723 hektar sumbangan dari APBN-Perubahan, 2.200 hektar lahan swadaya masyarakat, dan 200 hektar lahan yang dibuka di awal 2018 dibiayai APBN.

Tahun ini, kata Suwandi, akan dilakukan penanaman di lahan dengan luas sedikitnya 12.000 ha yang terdiri atas 5,580 ha kewajiban importir (sisa RIPH 2017 dan RIPH 2018) ditambah penanaman di lahan seluar 7.000 ha yang dananya bersumber dari APBN. [ipe]

Komentar

x