Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 21 September 2018 | 10:07 WIB

Rombak Direksi, Pertamina Sulit Kejar Petronas

Oleh : M Fadil Djaelani | Rabu, 25 April 2018 | 19:08 WIB

Berita Terkait

Rombak Direksi, Pertamina Sulit Kejar Petronas
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Presiden Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) Arie Gumilar mempertanyakan pergantian Elia Massa Manik yang baru 13 bulan menjabat sebagai direktur utama PT Pertamina (Persero).

Menurut Arie, perombakan yang terlalu singkat itu, tak akan membuat kemajuan di dalam tubuh perusahaan migas pelat merah ini. Apalagi, Pertamina dituntut untuk bisa mengungguli industri migas Malaysia, Petronas.

"Kita dituntut pemerintah mengalahkan Petronas Malaysia. Namun, jika terus seperti ini, kemajuan perusahaan untuk mengejar ketertinggalan pasti akan terganggu," kata Arie dalam keterang resminya di Jakarta, Rabu (25/4/2018).

Saat ditunjuk menjadi bos Pertamina, katanya, Elia Massa membawa kebijakan jangka pendek dan jangka panjang yang sudah melekat di seluruh pekerja. Namun, kebijakan ini tak ada artinya saat Elia Massa digantikan Nicke Widyawati. "Tetapi, dari sisi operasional, pekerja terus bekerja memenuhi target perusahaan, tak ada gangguan dari sisi operasional atas perombakan direksi ini," katanya.

Arie menambahkan, jabatan direktur utama Pertamina sangat strategis. Untuk itu, dia berharap, jabatan ini tidak lagi ditungganggi kepentingan-kepentingan yang merugikan perusahaan.

"Karena Pertamina ini bukan hanya berkepentingan membawa nama baik perusahaan, namun juga nama baik negara di dunia internasional. Kami harapkan tidak ada lagi pejabat-pejabat yang menunggangi Pertamina," tambahnya.

Sementara itu, Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengatakan pencopotan direksi Pertamina sarat kepentingan politis. Hal ini akibat dari gencarnya pemerintah untuk membentuk holding migas antara Pertamina dan PGN.

Bhima menegaskan, direksi Pertamina sekarang ingin fokus dengan eksplorasi minyak mentah serta mengurangi defisit neraca migas 2017 yang mencapai US$8,5 miliar (data BPS). Sedangkan, jumlah wilayah kerja eksplorasi secara nasional sepanjang 2014-2017 terus menurun menjadi 68 WK.

"Jika kondisi ini tidak berubah, lifting minyak pada tahun 2025 akan turun menjadi 505 ribu barel per hari dari kondisi saat ini 775 ribu barel per hari. Kinerja eksplorasi yang terus memburuk jadi alasan pencopotan direksi," Kata Bhima.

"Pencopotan ini justru memperlancar holding migas. Direksi yang baru dipaksa patuh ke Kementerian BUMN tanpa syarat. Di situ sisi politiknya," tambahnya. [ipe]

Komentar

x