Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 22 September 2018 | 05:28 WIB

Mencegah Limbungnya Mata Uang Garuda, Siapa Bisa?

Oleh : Herdi Sahrassad | Selasa, 1 Mei 2018 | 06:09 WIB

Berita Terkait

Mencegah Limbungnya Mata Uang Garuda, Siapa Bisa?
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Pelemahan rupiah yang terus berlanjut, memicu arus modal asing terus keluar dari pasar modal negeri ini.

Sejak Januari lalu, dana asing yang cabut mencapai Rp29,25 triliun. Kata orang, duit asing tersebut mulai pulang kampung, menyusul semakin kencangnya rencana penaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS (Fed Fund Rate/FFR) lebih dari tiga kali di tahun ini.

Nilai kapitalisasi pasar (market cap) Bursa Efek Indonesia (BEI) menurun Rp375 triliun, sejak awal tahun ini. Potret mulai larinya dana asing dari BEI.

Sentimen domestik yang masih lemah, atau kurang kuat, seolah tidak mampu menghalangi arus dana keluar dari pasar modal. Semuanya akibat, ya itu tadi, sentimen global yang bisa membuat ekonomi domestik mulai dilanda demam.

Para ekonom melihat, melemahnya nilai tukar rupiah sejak awal tahun hingga Maret 2018, bukan hanya faktor sentimen suku bunga acuan Amerika Serikat, atau rencana ekspansi fiskal yang digagas Presiden AS Donald Trump. Sebagaimana acapkali disampaikan BI.

Namun, pelemahan mata uang Garuda ini dipicu perekonomian domestik. Semisal, masih banyaknya aliran modal jangka pendek di pasar keuangan, serta neraca transaksi berjalan yang masih menyisakan lubang defisit.

"Gubernur BI yang sekarang tidak pernah menyebutkan komponen domestiknya yang membuat rupiah melemah. Padahal, ekonomi kita masih sangat rentan," kata Rizal Ramli, teknokrat senior dan Mentan Menko Kemaritiman.

Walhasil, bisa jadi, kurs US$ sudah tembus hingga Rp15.000, kalau tidak ada intervensi dari BI. Namun, ongkos dari operasi moneter ini tidaklah mura. Bank sentral gelontorkan dana jumbo hingga US$US$ 6 miliar untuk mengamankan rupiah di level Rp14 ribua-an per US$.

Masih kata RR, sapaan akrab Rizal Ramli, "Kalau kita lihat indikator hari ini account defisit, primary balance defisit, service payment defisit ditambah faktor The Fed dan sudah jebol dua bulan, dolar AS capai Rp15 ribu. Namun, Bank Indonesia sudah intervensi total US$ 6 miliar. Makanya tertahan dan adalah tugas kita untuk benerin, untuk benahi."

Lembaga pemeringkat internasioal Standard and Poors (S&P) Global Ratings, mengingatkan otoritas untuk memantau pelemahan nilai tukar rupiah yang mengarah ke level Rp15 ribu per US$. Sebab, depresiasi cepat ke level tersebut bisa berdampak turbulensi terhadap kegiatan bisnis.

"Untuk rupiah, kami telah mengestimasi, pelemahan rupiah ke arah Rp 15 ribu harus diawasi," kata Direktur Senior S&P Global Ratings Xavier Jean .

"Level 15 ribu adalah level yang harus diperhatikan karena level Rp 15 ribu adalah turbulensi yang nyata," ucapnya.

Peneliti LSI Adjie Alfaraby, mengatakan, berdasarkan temuan Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Presiden Joko Widodo dinilai gagal dalam pengelolaan ekonomi, isu agama (Islam) dan lapangan kerja .

Kata dia, isu ekonomi dan soal agama diperkirakan bisa jadi senjata lawan politik Jokowi untuk menggerus elektabilitasnya dan mengalahkannya di Pilpres 2019. Artinya, Jokowi belum bisa disebut sukses, sehingga mendorong oposisi melontarkan isu ganti presiden 2019 karena sama saja negara bangsa ini bunuh ini secara ekonomi.

Fenomena Jokowi ini tak beda dengan Gorbavhev di Rusia yang populer, namun gagal di ekonomi dalam negeri. "Jokowi mendapat tekanan civil spciety agar mundur atau agar tidak usah nyapres lagi karena ekonomi RI dibawa bunuh diri," kata peneliti Darmawan Sinayangsah dari Freedom Foundation dan Reinhard MSc dari The New Indonesia Foundation.

Beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat menerapkan suku bunga rendah, sejak akhir tahun lalu menaikkan Fed Fund Rate untuk menarik kembali para investor, yang sebelumnya berpaling ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di satu sisi, Bank Indonesia (BI) pun terus berupaya melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah agar tidak terperosok lebih dalam lagi. Dalam kaitan ini, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan, berdasarkan pantauan di pasar uang beberapa hari terakhir, BI secara intensif menabur US$ untuk mengendalikan nilai tukar.

Intervensi pasar yang dilakukan tersebut berakibat pada tergerusnya cadangan devisa Indonesia. "Hingga saat ini sudah tergerus US$6 miliar (year to date)," katanya

Menurut Faisal, praktik tersebut lazim dilakukan bank sentral guna mempertebal persediaan US$ di pasar. "Pengalaman di Malaysia sampai habiskan US$ 30 miliar untuk stabilisasi ringgit, kalau sampai sebesar ini sudah terlalu besar, berarti sudah sampai tahap kepanikan," ucapnya.

Para ekonom mengingatkan , psikologis pasar harus tetap dijaga oleh BI agar kepercayaan investor tak menurun. Gubernur BI Agus DW Martowardojo yang sebentar lagi lengser, membenarkan bahwa lembaganya telah melakukan intervensi baik di pasar valas, maupun Surat Berharga Negara (SBN). Mau tahu jumlahnya? Yang jelas, cukup besar. "Terbukti depresiasi tidak menjadi lebih dalam, perlahan kami menjaga stabilitas rupiah agar berbalik menguat," katanya.

Saat ini, nilai tukar US$ terhadap rupiah terus menari-nari di kisaran Rp13.800-Rp13.900 per US$. Fenomena ini tentunya harus diwaspadai. bahkan layak disebut fase lampu merah.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai, sentimen yang paling signifikan dari domestik yang menyebabkan ini adalah posisi neraca transaksi berjalan yang terus defisit. Tahun lalu, defisit transaksi berjalan mencapai 1,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau senilai US$ 17,3 miliar.

Tahun ini, defisit transaksi berjalan malah diperkirakan akan lebih besar lagi yaitu di kisaran 2%-2,1% dari PDB. Bengkaknya defisit disebabkan pertumbuhan impor tahun ini diprediksi lebih besar dibandingkan pertumbuhan ekspor.

Josua mencatat, transaksi berjalan kita masih defisit, sementara negara lain sudah pada surplus. Ini menunjukkan kebutuhan dollar AS kita masih sangat tinggi sehingga sangat sensitif ketika ada sentimen atau gejolak seperti sekarang ini.

Selain itu, besarnya kepemilikan asing di pasar keuangan Indonesia juga turut mempengaruhi lemahnya rupiah. Misal, kepemilikan asing terhadap surat berharga negara Indonesia masih sekitar 40%, "sedangkan di Malaysia, kepemilikan asingnya cuma kisaran 20%," kata Josua.

Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail, sependapat, bahwa besarnya porsi dana asing di Indonesia membuat mata uang rupiah lebih rentan terhadap sentimen eksternal, termasuk sentimen kenaikan suku bunga acuan AS.

Oleh sebab itu, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan langkah BI menggelontorkan devisa untuk menahan pelemahan rupiah tak bisa terus dibiarkan.

Sebab, akan berpengaruh pada kredibilitas moneter dalam negeri. Cadangan devisa terus menurun sejak Februari lalu, hingga terakhir berada di posisi US$ 126 miliar. "Dalam kondisi mendesak BI bisa menerbitkan aturan mengenai capital control untuk tahan devisa hasil ekspor di bank dalam negeri sehingga pembelian rupiah meningkat," ujarnya.

Bhima mencontohkan Thailand yang berhasil menjaga mata uang Bath di jalur stabil. "Tapi mereka sudah punya instrument capital control devisa hasil ekspor di mana wajib disimpan di bank dalam negeri minimal 6 bulan, nah aturan ini kita belum punya," ucapnya.

Hal serupa diungkapkan, Analis Binaartha Parama Sekuritas, Reza Priyambada yang mengingatkan bahwa para pelaku pasar menilai upaya BI mengguyur dolar AS, menggunakan cadangan devisa sudah tidak lagi mujarab. "BI mengatakan pelemahan rupiah dikarenakan pengaruh global, tapi dari BI langkah strategisnya apa itu yang belum ditangkap pelaku pasar," katanya.

Melemahnya rupiah membuat penurunan nilai kapitalisasi pasar di sektor barang konsumsi yang disebabkan kenaikan bahan baku. Hal ini mengakibatkan laba bruto perusahaan lebih rendah dibandingkan dengan sebelumnya. Dalam tiga bulan terakhir, harga bahan baku meningkat dipengaruhi oleh dollar AS yang menguat, dan itu membuat dunia usaha kena imbas berat.

Oleh sebab, menurut Rizal Ramli, BI dibawah gubernur baru, harus berani jujur dalam menjelaskan data ekonomi Indonesia, serta memberikan rekomendasi perbaikan kebijakan bagi pemerintah. Misalnya, soal pelemahan rupiah, yang sejujurnya bukan hanya karena tekanan eksternal, tapi ada juga faktor domestik yang membuat rupiah melemah.

Gubernur BI yang baru harus mampu berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan serta Otoritas Jasa Keuangan agar mampu mengurangi dana asing di pasar keuangan (hot money) dan menggantikannya dengan dana asing berjangka panjang.

Selain itu, pimpinan Bank Sentral harus mampu mendorong pemerintah atau kementerian di sektor rill agar mampu memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan, melalui kebijakan di sektor perdagangan.

Sekali lagi, pemerintah Jokowi harus mencegah jangan sampai sinyal ekonomi mengarah ke lampu merah akibat merosotnya rupiah.

Itulah sebabnya di era globalisasi yang sarat ketidakpastian (uncertainty), memperkuat fundamental ekonomi domestik sangat penting untuk meminimalisasi dampak gejolak eksternal terhadap ekonomi Indonesia. [ipe]

Komentar

x