Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 24 Oktober 2018 | 06:46 WIB

Presiden Berani Evaluasi Menteri Rini?

Oleh : Indra Hendriana | Rabu, 2 Mei 2018 | 00:55 WIB

Berita Terkait

Presiden Berani Evaluasi Menteri Rini?
Menteri BUMN, Rini Soemarno - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Menteri BUMN, Rini Soemarno kembali menjadi sorotan setelah rekaman dirinya beredar. Presiden Joko Widodo pun diminta melakukan evaluasi kinerja Menteri Rini.

Menurut Pengamat pasar modal, Adler Haymans Manurung, Rini selama menjadi Menteri BUMN kinerjanya tidak terlalu mengkilat. Bahkan, banyak kebijakan Rini sebagai Menteri BUMN yang justru kontraproduktif bagi kemajuan perusahaan-perusahaan plat merah.

"Tidak ada yang cemerlang selama kepemimpinannya," kata Adler, Jakarta, Selasa (1/5/2018).

Diantaranya adalah, kebijakan Rini yang sering mengganti Direksi BUMN. Bagi dia, kebijakan itu kontra produktif. Alih-alih bisa memajukan BUMN, justru kebijakan menggonta-ganti Direksi BUMN membuat banyak petinggi di BUMN takut membuat terobosan.

Mereka tidak bisa bekerja dengan tenang. Dampak seriusnya itu bisa berpengaruh pada performa dan trust publik terhadap BUMN itu sendiri. Sementara di sisi lain, banyak BUMN yang sudah go public. Di tambah lagi, alasan dibalik pergantian BUMN itu tidak jelas.

"Pergantian direksi secara cepat tidak membuat BUMN makin baik, sebaiknya pergantian dengan alasan yang jelas," katanya.

Baru-baru ini, Rini kembali disorot karena beredarnya rekaman yang diduga Rini dengan Dirut PT PLN, Sofyan Basir.

Menurut dia, hal ini bisa menjadi
beban politik bagi Presiden. Dia menyarankan sebaiknya Presiden mengevaluasi keberadaan Rini di kabinet.

Sebelumnya, beredar rekaman perbincangan yang diduga Menteri BUMN, Rini Soemarno dengan Dirut PLN, Sofyan Basyir. Dalam rekaman yang beredar di publik sejak Jumat (27/4/2018) itu, Rini dan Sofyan berbicara mengenai dugaan "bagi-bagi saham" yang menurut Sofyan, masih terlalu kecil.


Padahal, PLN, katakanlah cukup berjasa pada bisnisnya. Sofyan sempat menyebut nama Pak Ari, yang disebut dalam narasi rekaman sebagai Ari Soemarno. Tak jelas pula, untuk apa PLN memperebutkan saham perusahaan yang sudah difasilitasi tersebut. [hid]

Berikut isi percakapan Rini (RS) dan Sofyan (SB):


_RS: Ya, ya. Kemarin ngomong sama bapak kemarin, yang penting ginilah, udahlah, sebaiknya yang harus ambil ini dua, Pertamina sama PLN. Jadi dua-duanya punya saham lah pak, begitu.


SB: Dikasih kecil kemarin saya bertahan Bu, ya kan beliau ngotot. ["Gimana sih Sof, katanya. Loh, pak, ini kan kalau gak ada PLN kan bapak gak ada juga semua bisnis]


RS: ....sama PLN...


SB: PLN... Waktu itu saya kan ketemu Pak Ari juga, Bu. Saya bilang, Pak Ari, mohon maaf, masalah share ini kita duduk lagi lah Pak Ari.


RS: Saya terserah bapak-bapak lah, saya memang kan konsepnya sama sama Pak Sofyan


SB: Betul

Komentar

x