Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 22 September 2018 | 05:27 WIB

Buntut Rekaman Rini-Sofyan, Evaluasi Menteri BUMN

Oleh : Iwan purwantono | Rabu, 2 Mei 2018 | 18:40 WIB

Berita Terkait

Buntut Rekaman Rini-Sofyan, Evaluasi Menteri BUMN
Menteri BUMN Rini Soemarno - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Presiden Joko Widodo masih belum berbicara tegas terkait bocornya rekaman percakapan antara Menteri BUMN Rini Soemarno dengan Dirut PT PLN (Persero) Sofyan Basir. Imbas kegaduhan ini bisa meluas jika tak segera diselesaikan.

Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan meminta Presiden Jokowi dan DPR, segera bersikap. Dalam hal ini, presiden perlu memanggil langsung Rini untuk dimintai penjelasan. Tidak perlu menunggu informasi secara mendetil.

Mamit juga menyarankan DPR menyudahi perang dingin dengan Rini. Dengan begitu, DPR bisa segera meminta klarifikasi kepada Rini dan Sofyan, terkait rekaman percakapan yang bocor ke media sosial itu. Parlemen juga perlu mendalami berbagai dugaan yang mengemuka termasuk soal indikasi bago-bagi fee proyek. "DPR perlu mengakhir perang dingin dengan Rini supaya bisa segera mengklarifikasi permasalahan yang ada," ujar Mamit di Jakarta, Rabu (2/5/2018).

Kalau dibiarkan, kata Mamit, percakapan Rini-Sofyan ini, dikhawatirkan berimbas kepada hilangnya kepercayaan investor kepada Indonesia. Di mana, bisnis yang digarap Kementerian BUMN banyak yang melibatkan pihak ketiga.

"Sedikit banyak pasti akan terdampak, misalnya terhadap pihak ketiga, entah itu perbankan, atau investor lain yang mau kerja sama dengan BUMN. Jika benar seperti dugaan awal, akan sangat berdampak negatif terhadap investasi kita," beber Mamit.

Mamit mendorong masalah ini bisa diungkap secara sampai tuntas. Agar, persepsi negatif yang sudah terlanjur liar selama ini, bisa terhenti. "Juga tidak membuat kegaduhan semakin panjang," lanjut Mamit.

Beruntung, kata Mamit, masalah ini belum berimbas pada kepercayaan pelaku bisnis di pasar modal. Namun, bukan berarti sudah aman. Dalam hal ini, pemerintah perlu antisipatif agar masalah ini tidak tumbuh menjadi distrust.

Pengamat pasar modal, Adler Haymans Manurung, berharap, Presiden Jokowi mencopot Rini Soemarno dari posisi menteri BUMN. Alasannya bukan semata-mata karena rekaman pembicaraan yang bikin heboh, melainkan karena kinerja menteri kelahiran Maryland, Amerika Serikat itu, tergolong minim prestasi.

Selama ini, kata Adler, Menteri Rini hobi bongkar-pasang direksi BUMN yang berbuah kontroversi, ketimbang peningkatan kinerja. Pola kerja seperti ini jelas kontraproduktif bagi BUMN. "Tidak ada yang cemerlang selama kepemimpinannya," kata Adler.

Adler mengatakan, memang sah-sah saja jika seorang menteri BUMN melakukan bongkar pasang direksi BUMN. Namun, harus ada alasan jelas dan terukur.

Sekali lagi dia mengiingatkan agar Presiden Jokowi segera mencopot Rini. Sebab, sarjana ekonomi lulusan Wellesley College, Massachusetts itu, bisa menjadi duri dalam daging bagi Jokowi yang bakal menjadi capres petahana di Pilpres 2018. "Sebaiknya Jokowi evaluasi saja Rini," kata Adler. [ipe]


Komentar

x