Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 15 Desember 2018 | 06:06 WIB

Airlangga Optimis Industri Manufaktur Makin Subur

Kamis, 3 Mei 2018 | 20:15 WIB

Berita Terkait

Airlangga Optimis Industri Manufaktur Makin Subur
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto - (Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, kinerja industri nasional menunjukkan agresivitasnya, seiring peningkatan permintaan pasar domestik dan adanya perluasan usaha.

Pernyataan Airlangga ini tidak sembarangan lantaran dilandasi laporan indeks manajer pembelian (purchasing manager index/PMI) yang dirilis Nikkei. "Di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, perkembangan industri manufaktur kita terus mengalami tren yang positif," kata Airlangga dalam rilis kepada media di Jakarta, Kamis (4/5/2018).

Kata Airlangga, hal itu seiring dengan upaya pemerintah yang menciptakan iklim investasi yang kondusif serta memberikan kemudahan perizinan dalam berusaha. Nikkei mencatat, pada April 2018, PMI manufaktur Indonesia berada di angka 51,6.

Mengalami kenaikan dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 50,7. Dengan nilai PMI di atas 50, menandakan manufaktur tengah ekspansif. Selain itu, indeks pada bulan keempat tahun ini, menempati posisi terbaik sejak 22 bulan lalu atau Juni 2016.

Pergerakan indeks PMI didukung arus pekerjaan baru yang semakin besar. Terutama tingkat ekspansi yang paling tajam sejak pertengahan Juni 2016. Selain itu, dipengaruhi kenaikan permintaan konsumen khususnya yang berasal dari pasar domestik.

Rilis Nikkei Indonesia Manufacturing PMI ini disusun berdasarkan data yang dikompilasi dari respons bulanan melalui kuesioner yang dikirimkan kepada lebih dari 300 perusahaan industri.

Sektor manufaktur yang disurvei terbagi dalam delapan kelompok utama, yaitu logam dasar, kimia dan plastik, listrik dan optik, makanan dan minuman, teknik mesin, tekstil dan busana, kayu dan kertas, dan transportasi.

Airlangga kembali menegaskan, kementerian perindustrian bertekad untuk semakin memacu pertumbuhan industri manufaktur. Pasalnya, aktivitas sektor pengolahan konsisten membawa efek berganda bagi perekonomian nasional.

Semisal, menggenjot nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, serta penerimaan devisa dari ekspor. "Kami fokus menjalankan hilirisasi industri," ujar ketua umum Partai Golkar ini.

"Selain itu, Kementerian Perindustrian aktif untuk menarik investasi dan menggenjot ekspor. Industri juga menjadi penyumbang terbesar dari pajak dan cukai," imbuh Airlangga.

Di hadapan para pengusaha Ceko, Rabu (2/5/2018), Airlangga menyampaikan perkembangan positif dari kinerja industri dan ekonomi di Indonesia. Selain itu, mempromosikan produk-produk industri nasional yang telah unggul di kancah global.

"Indonesia mengalami peningkatan Ease of Doing Business (EODB) terbesar selama dua tahun terakhir, dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya," papar Airlanga.

EODB Indonesia tahun 2017 berada di posisi ke-72, naik 34 peringkat dari peringkat tahun 2015 di urutan ke-106. "Negara Asean lainnya, seperti Thailand dan Vietnam hanya mengalami kenaikan 20 dan 23 peringkat. Sedangkan Filipina turun 14 peringkat dan Malaysia turun dua peringkat," tuturnya.

Airlangga menyebut, Indonesia tengah membangun siklus ekonomi yang membawa ke dalam bagian kekuatan ekonomi global. "Indonesia akan keluar dari middle income trap dan menjadi negara maju pada tahun 2030, dengan posisi ketujuh di dunia. Bahkan, tahun 2050, Indonesia akan mampu naik peringkat menjadi keempat di dunia. Ini momentum 100 tahun pascakemerdekaan," paparnya.

Dirinya menyampaikan, Indonesia saat ini, menjadi salah satu negara tujuan utama untuk investasi. Pasalnya, dalam 15 tahun ke depan, atau mulai 2030, Indonesia akan memasuki masa bonus demografi, di mana penduduknya akan didominasi oleh usia produktif. "Berkaca dari Jepang, China, Singapura dan Thailand, setelah memasuki masa bonus demografi, pertumbuhan ekonominya sangat tinggi," ucapnya.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi sektor industri manufaktur sepanjang kuartal I/2018 mencapai Rp62,7 triliun.

Realisasi tersebut terdiri dari penanaman modal dalam negeri senilai Rp21,4 triliun dan penanaman modal asing sebesar US$3,1 miliar. Sektor industri logam, mesin, dan elektronik menjadi penyumbang terbesar dengan nilai investasi mencapai Rp22,7 triliun. [tar]

Komentar

x