Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 20 Juli 2018 | 06:13 WIB
 

Ini Alasan Harga BBM Bersubsidi Stabil hingga 2019

Oleh : Wahid Ma'ruf | Senin, 7 Mei 2018 | 13:50 WIB
Ini Alasan Harga BBM Bersubsidi Stabil hingga 2019
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Kementerian ESDM tetap mencoba meyakinkan harga solar dan harga minyak tanah tidak akan naik sampai dengan 2019. Hal ini bagian dari kebijakan subsidi tepat sasaran termasuk premium yang tak mendapat subsidi APBN lagi.

"Sudah 3 tahun bahkan lebih, tidak ada kenaikan BBM Premium, Solar dan Minyak Tanah. Hingga tahun 2019 juga tidak akan naik, tarif listrik juga tidak naik. Itu dalam rangka meningkatkan kestabilan ekonomi dan sosial masyarakat serta mempertahankan daya beli masyarakat," kata Agung Pribadi, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Subsidi energi terdiri dari subsidi BBM, LPG dan listrik. Sejak tahun 2015, jenis BBM yang disubsidi hanya Solar dan Minyak Tanah. Sementara Premium tidak lagi disubsidi APBN.

Meski demikian, harga BBM jenis Premium (Jenis BBM Khusus Penugasan) dan Solar tidak pernah mengalami kenaikan sejak April 2015. Saat itu harga Premium tersebut sebesar Rp7.300 dan Solar Rp6.900 per liter.

BBM Premium per 5 Januari 2016 bahkan harganya turun dari Rp7.300 menjadi Rp6.950 per liternya. Lalu pada 1 April 2016 turun lagi menjadi Rp6.450 per liter yang berlaku hingga dan hingga 2019 juga dipastikan tidak naik.

Demikian halnya dengan BBM jenis Solar per 10 Oktober 2015 harganya justru turun dari Rp6.900 menjadi 6.700 per liternya. Lalu per 5 Januari 2016 juga turun menjadi Rp5.650 per liter dan 1 April 2016 turun lagi menjadi Rp5.150 per liter dan tetap sampai hari ini.

"Hingga 2019 Solar juga tidak ada kenaikan. Sedangkan untuk minyak tanah tidak pernah ada ke kenaikan sejak tahun 2008," jelas Agung seperti mengutip laman resmi Kementerian ESDM, Senin (7/5/2018).

Dalam menjaga subsidi APBN tetap sasaran, selama 3 tahun terakhir (2015-2017) total subsidi energi sebesar Rp323 triliun atau lebih rendah 66% dari 3 tahun sebelumnya yang sebesar Rp958 triliun (2012-2014).

Sebaliknya anggaran untuk infrastruktur, pendidikan dan kesehatan meningkat sangat signifikan. Sejak tahun 2015 angkanya selalu diatas Rp700 triliun. Bahkan tahun 2018 ini dialokasikan sebesar Rp965 triliun. Tahun-tahun sebelumnya anggaran tersebut di bawah Rp600 triliun.

"APBN harus dijaga, subsidi energi dibuat makin tepat sasaran, sehingga belanja yang lebih produktif seperti infrastruktur, pendidikan dan kesehatan bisa punya porsi yang jauh lebih besar," ungkap Agung.

Komentar

x