Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 28 Mei 2018 | 02:37 WIB
 

Amuk Dolar Hempaskan Rupiah

Jangan Pede, Gerindra Minta SMI Kerja dan Benahi

Oleh : Iwan purwantono | Rabu, 9 Mei 2018 | 15:36 WIB
Jangan Pede, Gerindra Minta SMI Kerja dan Benahi
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap US$ terus melemah, bahkan melewati batas psikologis Rp14 ribu/US$. Pihak kementerian keuangan terkesan tenang-tenang saja. Menganggapnya biasa, efek kebijakan AS.

Vokalis Komisi XI DPR Heri Gunawan menyayangkan sikap kemenkeu yang dipimpin Sri Mulyani Indrawati (SMI) maupun Bank Indonesia yang seolah tidak melihat adanya masalah yang krusial.

Dia bilang, melemahnya mata uang Garuda tidak melulu faktor global. Pemerintah tak boleh terus-terusan menggeser kesalahan internal menjadi faktor ekternal dan bukan juga di politisir. "Ini bukan melulu karena kebijakan the Fed, tapi juga karena pengelolaan domestik yang keliru," papar Heri di Jakarta, Rabu (9/5/2018).

Ada yang keliru? Ya, kader Gerindra ini menyebut sejumlah kesalahan yang terjadi. Telah terjadi pengelolaan yang keliru di internal, yaitu soal yang disebut-sebut oleh pakar tentang: account defisit, primary balance defisit, service payment defisit.

Hal itu, kata anak buah Prabowo ini, bermula dari kesulitan pemerintah menghindari, atau menekan defisit keseimbangan primer (primary balance defisit) yang berimbas kepada defisit APBN (account defisit) dan defisit pembayaran.

Untuk diketahui, utang jatuh tempo untuk 2018 dan 2019 mencapai Rp800 triliun. Hal inilah yang melahirkan defisitnya keseimbangan primer. Di sisi lain, pertumbuhan realisasi pajak dalam tiga tahun terakhir, hanya 4%. "Tidak sebanding dengan kenaikan kewajiban utang," papar Heri.

Defisit keseimbangan primer itu, kata dia, disebabkan oleh defisit anggaran (account defisit) yang melebar. Ketika defisit anggaran melebar, artinya ada belanja yang tidak bisa ditutupi oleh penerimaan negara. Defisit itulah yang kemudian ditutup dengan utang baru. Di mana, utang setiap tahun bertambah lebih dari Rp430 triliun.

Dijelaskan Heri, keseimbangan primer merupakan total pendapatan negara dikurangi belanja negara di luar pembayaran bunga utang. Apabila keseimbangan primer bernilai negatif atau defisit, pemerintah harus menerbitkan utang baru untuk membayar pokok dan bunga utang lama.

"Istilahnya gali lubang tutup lubang. Jumlah utang pemerintah pada akhir Maret 2018 meroket menjadi Rp4.136 triliun dengan tax ratio 9.9%, turun setiap tahun," ungkapnya.

Heri mengingatkan, sejak 2012 hingga 2017, keseimbangan primer, terus mencatat defisit. Dengan nilai defisit yang kian meningkat. Tahun ini saja, keseimbangan primer ditargetkan masih negatif atau minus Rp78,35 triliun.

Ujung-ujungnya, defisit keseimbangan primer akan menguras habis cadangan devisa (cadev) hanya untuk membayar utang (service payment defisit). "Kondisi inilah yang berimbas kepada semakin terpuruknya rupiah," papar Heri.

Pada 2011, rasio antara pembayaran cicilan pokok plus bunga, dibagi dengan penerimaan pajak masih 25,6%. Namun sejak 2016, naik menjadi 31%. Artinya, penerimaan pajak untuk membayar bunga utang dan cicilan pokok utang, menguras 31% dari total penerimaan pajak, dengan tax ratio

Kunci dari berbagai kerumitan ini, lanjut Heri, adalah membenahi tiga ancaman defisit tersebut. Jadi, jangan hanya mampu menggeser masalah ke faktor eksternal.

Sangat disayangkan, ketika keuangan negara sudah lampu kuning, akibat membengkaknya utang dan bermacam defisit: seperti defisit anggaran, keseimbangan primer, neraca perdagangan, dan neraca transaksi berjalan, namun keuangan negara masih dikatakan aman. "Sekali lagi, ayo kerja dan benahi," tegas Heri. [ipe]


Komentar

 
x