Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 17 Agustus 2018 | 20:39 WIB

Ketika Rupiah Letoi, Sri Malas Komentari Utang

Oleh : Indra Hendriana | Rabu, 9 Mei 2018 | 19:17 WIB
Ketika Rupiah Letoi, Sri Malas Komentari Utang
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah. Kurs spot rupiah sempat melemah 0,36% menjadi Rp 14.052 per US$.

Lalu, bagaimana nasib utang jangka pendek Indonesia? Ditanya soal ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, tak mau memberikan komentar.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini hanya umbar janji akan bicara soal ini ke publik. Maksudnya, Sri Mulyani bakal menggelar konferensi pers terkait pelemahan nilai tukar rupiah, termasuk langkah pemerintah. "Besok, kami sampaikan masalah itu," kata Sri Mulyani di Kantor Kemenko Kemaritiman, Jakarta, Rabu (9/5/2018).

Adapun kedatangan Sri ke kantor Luhut Binsar Pandjaitan ini adalah untuk membicarakan tanah kwarnas untuk LRT. Namun, kehadiran perempuan kelahiran Lampung ini, hanya sebentar.

Sri Mulyani sebelumnya menyebut, pelemahan rupiah akibat situasi pasar yang sedang melakukan penyesuaian terhadap perubahan kebijakan oleh Pemerintah Amerika Serikat.

Menyikapi hal ini, pemerintah akan dengan berkoordinasi menjaga kinerja perekonomian Indonesia tetap baik sambil sama-sama melalui masa penyesuaian ini.

"Kami akan terus menjaga perekonomian Indonesia, fondasi kami perkuat, kinerja kami perbaiki, hingga apa yang disebut sentimen market itu relatif bisa netral terhadap Indonesia," kata Sri Mulyani.

Kemudian, pengelolaan dari sisi fiskal tetap terjaga, dengan defisit transaksi berjalan di bawah batas aman 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), inflasi di kisaran 3,5 persen, serta tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,06 persen untuk kuartal I 2018 yang dinilai masih baik.

Sri Mulyani memastikan, pemerintah akan terus menjaga indikator-indikator tersebut hingga pelaku pasar melihat Indonesia sebagai negara dengan perekonomian yang baik dan stabil. "Dengan demikian, seluruh adjustment ini bisa dilakukan secara jauh lebih cepat dan tanpa gejolak yang berarti yang akan mengganggu pemulihan ekonomi Indonesia," kata dia. [ipe]

Komentar

x