Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 28 Mei 2018 | 02:47 WIB
 

Willgo: Stabilisasi Rupiah, BI Korbankan Cadev

Oleh : - | Kamis, 10 Mei 2018 | 04:29 WIB
Willgo: Stabilisasi Rupiah, BI Korbankan Cadev
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Kebijakan Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas rupiah dengan melakukan operasi moneter, nyatanya tak efektif. Yang ada justru menggerus cadangan devisa hingga US$1,1 miliar pada April 2018. Sementara rupiah tetap saja babak belur.

Anggota Komisi XI asal Gerindra Willgo Zainar di Mataram, Kamis (10/5/2018), mengatakan, intervensi BI dengan melakukan operasi moneter di pasar, terbukti tak efektif. Di mana, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (9/5/2018) menclok di level Rp14.085 per US$.

"Kita tentu tidak berharap intervensi BI di pasar uang seperti membuang garam di laut. Tidak banyak efek atau manfaatnya. Ya, kalaupan ada kecil dan sesaat sekali. Tidak mampu menguatkan rupiah yang sebenarnya," papar Willgo.

Willgo mengatakan, untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI acapkali melakukan intervensi pasar. Kebijakan ini menggerus cadangan devisa. Per Januari 2018, cadev berada di posisi US$131.98 miliar. Selanjutnya pada April 2018 susut menjadi US$124.86 miliar. "Kita tidak tahu berapa besar dana yang digunakan untuk interviensi BI, dan berapa yang untuk bayar utang. Ini, kita harap BI berani menyampaikan secara jujur dan transparan kepada publik," kata anak buah Prabowo ini.

Dengan memburuknya nilai tukar rupiah, lanjut Willgo, kebutuhan dana untuk impor dan pembayaran utang yang jatuh tempo serta bunga, bakal membengkak.

Selanjutnya, dia menyarankan, BI tidak hanya mengedepankan intervensi pasar. Namun harus berani melakukan terobosan yang terukur. Misalnya dengan mereview suku bunga acuan. "Saya kira, BI harus segera mereview kebijakan suku bunga dengan menaikkan 0,25 atau 0,50 basis point. Untuk lebih menarik investor masuk," kata willgo.

Meski begitu, menurut Willgo, kebijakan suku bunga ini juga memiliki resiko. Bila SPN 3 bulan naik 1% dari asumsi makro APBN 2018 yakni 5,2%, akan berdampak kepada kenaikan biaya bunga yang harus dibayar pemberintah sebesar Rp1,4 triliun hingga Rp2,3 triliun. [tar]


Komentar

 
Embed Widget

x