Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 23 Juli 2018 | 05:07 WIB
 

Rupiah Melemah dan Janji Pertumbuhan Ekonomi

Oleh : Herdi sahrasad | Kamis, 10 Mei 2018 | 12:33 WIB
Rupiah Melemah dan Janji Pertumbuhan Ekonomi
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Hari-hari ini, kurs rupiah terhadap US$ terus melemah bahkan menembus batas psikologis Rp14 ribu per US$. Pelemahan ini melemahkan daya beli dan bikin pertumbuhan ekonomi kontet.

Memang benar kalau disebut kalau pelemahan mata uang yang paling kita cintai ini, dipicu Negeri Paman Sam. Rencana penaikan suku bunga dari bank sentral AS, The Fed yakni Fed Fund Rate (FFR) yang dipicu perbaikan ekonomi AS, melemahkan mata uang utama. Dan, rupiah kena hantamannya.

Namun demikian, faktor eksternal tersebut, bukanlah segala-galanya. Ketika tim di internal kuat tentunya bisa mengantisipasi berbagai kemungkinan yang buruk. Intervensi pasar yang dilakukan Bank Indonesia (BI) dengan menggerojok dolar AS, tak berbuah hasil.

Yang ada cadangan devisi (cadev) malah tergerus US$1,1 miliar. Itu baru catatan April 2018. Kalau operasi moneter jalan terus tentunya cadev makin susut di bulan-bulan selanjutnya.

Lebih celaka lagi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS malah semakin terpuruk. Pada penutupan Rabu (9/5/2018), kursnya berada di titik Rp14.085 per US$. Artinya, cadev yang US$1,1 miliar itu hanya sia-sia.

Tiga tahun ini Indonesia tengah menghadapi tekanan terhadap nilai tukar rupiah, yang mengakibatkan BI harus menggelontorkan duit senilai US$3,8 miliar untuk menahan agar rupiah tidak tembus Rp14.000 per US$.

Dalam dua bulan terakhir, rupiah mengalami tekanan luar biasa. Awal Januari 2018, rupiah berada di level Rp 13.300 per US$. Terus terdepresiasi hingga level Rp13.800 per US$ di awal Maret 2018. Dan benar juga, kini kurs sudah menembus batas psikologi Rp14 ribu per US$. Bukan tak mungkin bakal terus merosot hingga Rp15 ribu per US$.

Beberapa waktu lalu, Gubernur BI Agus Martowardojo angkat bicara. Dia bicara menyusul pernyataan dari Lembaga rating Standard and Poors (S&P) menyangkut nasib mata uang rupiah. Di mana, S&P memrediksi rupiah bakal melemah hingga level Rp 15.000 per US$.

Agus bilang, selama ini, BI bisa menjaga stabilitas rupiah yang mencerminkan fundamental ekonomi. Alhasil nilai tukar mata uang Garuda masih bisa anteng di level Rp13.750 per US$. Diprediksi secara year to date (Ytd) rupiah hanya terdepresiasi 1,5%, penguatan US$ tidak akan lama.

Sementara Ekonom Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara menyebutkan bahwa ramalan S&P biasanya sangat moderat. Artinya, rupiah bisa saja terperosok lebih dalam dari Rp15.000 per US$. Misalnya di kisaran Rp16.000-Rp 6.500 per US$ sepanjang 2018-2019 yang disebut-sebut sebagai tahun politik.

Mungkin karena tak tahu harus berbuat apa, pejabat ekonomi di era Joko Widodo acapkali menuding faktor eksternal. Sekali lagi emang tidak salah namun tidak juga tepat. Harusnya, upaya mengantisipasi dilakukan jauh-jauh hari.

Di sisi yang lain ada tekanan terhadap harga komoditas khususnya minyak mentah, CPO, dan batubara. Ketiga komoditas penting dunia ini, diprediksi bakal memasuki tren kenaikan. Harga minyak mentah diprediksi tembus US$80 per barel pada paruh tahun. Harga saat ini di kisaran US$63-65 per barel.

Nah, dampak pelemahan rupiah itu bisa berupa-rupa. Pukulan bagi daya beli rakyat yang saat ini belum pulih secara utuh. Pada akhirnya, jangan berharap pertumbuhan ekonomi bisa sesuai target APBN 2018 sebesar 5,4%.

"Daya beli terutama golongan menengah ke bawah bakal semakin anjlok. Hingga kini, belum ada tanda-tanda kebangkitan," papar Ekonom senior Rizal Ramli yang juga mantan menko perekonomian era Gus Dur itu.

Rizal menyoroti kelemahan struktural dalam makro ekonomi Indonesia yang masih belum purna tuntas. Dimulai dari defisit neraca perdagangan (ekspor-impor) yang terjadi selama tiga bulan berturut-turut.

Selain itu, defisit transaksi berjalan tercatat US$5,8 miliar, pembayaran cicilan pokok dan bunga utang pada 2018 dan 2019 sebesar Rp 800 triliun, defisit neraca keseimbangan primer atau APBN 2017 tercatat minus Rp68,2 triliun.

Tentang utang, kurang lebih 50% dimiliki asing dan sebagian besar tenornya berjangka pendek. Kondisi ini menyebabkan kerentanan (vulneranilibity) dalam pasar uang.

Dalam hal ini, BI dan pemerintah harus kreatif dalam melakukan restrukturisasi utang, renegosiasi ke negara-negara kreditor untuk mengubah tenor utang dari jangka pendek menjadi jangka panjang. Bila berhasil, bisa meningkatkan stabilitas keuangan dan menurunkan tingkat bunga domestik.

Masalah yang tak kalah gawatnya adalah ketimpangan kredit. Sebesar 83% kredit hanya mengalir ke bisnis besar. Porsi untuk usaha menengah dan kecil hanya 17%. Padahal, kelompok bisnis besar lebih rentan krisis ketimbang usaha kelas menengah dan kecil.

Bank sentral dan OJK seharusnya merubah komposisi ini. Sebesar 70% kredit bolehlah disajikan untuk korporasi kakap. Sisanya yang 30% diarahkan untuk menumbuhkan UMKM. Ingat, bisnis besar tumbuh dari bisnis kecil. Dengan konsep pendalaman pasar uang ini, bisnis besar bisa menggali permodalan dengan menjual saham atau menerbitkan surat utang.

Masih senjangnya sektor ekonomi, bisnis ditambah terpuruknya rupiah bukti bahwa kinerja tim ekonomi di era Joko Widodo belum layak disebut efektif. Pertumbuhan ekonomi kemungkinan besar tak jauh beranjak dari angka 5%. Masih jauh dari janji kampanye Joko Widodo dalam pilpres 2014 sebesar 7%. [ipe]

Komentar

x