Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 15 Desember 2018 | 06:03 WIB

Rupiah Lemah, Bos BI Beri Sinyal Kerek Suku Bunga

Jumat, 11 Mei 2018 | 18:36 WIB

Berita Terkait

Rupiah Lemah, Bos BI Beri Sinyal Kerek Suku Bunga
Gubernur BI, Agus Martowardojo - (Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Terkait nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang masih berada di bawah level Rp14.000 per US$, Bank Indonesia (BI) ancang-ancang menurungkan suku bunga acuan (7-Days Reverse Repo Rate).

Gubernur BI, Agus Martowardojo dalam laman BI di Jakarta, Jumat (11/5/2018), mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan terakhir, tidak lagi sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia saat ini.

Ke depan, kata dia, tantangan dari kondisi perekonomian global masih berpotensi menganggu kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah panjang.

Dalam hal ini, BI akan secara tegas dan konsisten mengarahkan dan memprioritaskan kebijakan moneter pada terciptanya stabilitas. "Dengan mempertimbangkan hal tersebut, BI memiliki ruang yang cukup besar untuk menyesuaikan suku bunga kebijakan (7-days Reverse Repo Rate)," kata Agus.

Respons kebijakan tersebut, kata Agus, bakal dijalankan secara konsisten dan pre-emptive guna memastikan keberlangsungan stabilitas. Selain itu, BI konsisten mendorong berjalannya mekanisme pasar secara efektif dan efisien. Sehingga ketersediaan likuiditas baik di pasar valuta asing (valas) maupun pasar uang, bisa tetap terjaga.

Operasi moneter di pasar valuta asing, kata dia, tetap akan dilakukan untuk meminimalkan volatilitas nilai tukar. Demi menjaga keyakinan pelaku ekonomi. Operasi moneter di pasar uang akan terus dilakukan untuk memastikan ketersediaan likuiditas rupiah yang memadai dan terjaganya stabilitas suku bunga di pasar uang, dalam koridor yang sejalan dengan stance kebijakan moneter Bank Indonesia.

Kolaborasi dengan otoritas terkait dan industri keuangan terutama asosiasi, akan semakin diperkuat untuk memperdalam dan mengefisienkan price discovery di pasar valuta asing dan pasar uang, termasuk melalui penambahan variasi instrumen, penguatan infrastruktur pasar keuangan, dan memperkuat kredibilitas suku bunga acuan pasar (market reference rate).

Koordinasi dengan pemerintah akan semakin diperkuat untuk memastikan terjaganya inflasi sesuai sasaran, memastikan berjalannya reformasi struktural secara efektif untuk memperkuat struktur neraca transaksi berjalan dan neraca modal, serta berbagai kebijakan struktural lainnya untuk meningkatkan daya saing perekonomian. [tar]

Komentar

x