Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 28 Mei 2018 | 02:43 WIB
 

Ini Pemicu Neraca Perdagangan Defisit Versi Darmin

Oleh : Indra Hendriana | Selasa, 15 Mei 2018 | 17:40 WIB
Ini Pemicu Neraca Perdagangan Defisit Versi Darmin
Menteri Kordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Menteri Kordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakatan, naiknya impor karena kebutuhan bahan baku proyek infrastruktur.

"Kelihatannya kan begini, proyek infrastruktur, disamping proyek-proyek investasi yang swasta yang lain, proyek investasi swasta yang lain itu ditunjukkan oleh meningkatnya pembentukan modal domestik," kata Darmin di kantor Kemenko Perekonomian Jakarta, Selasa (15/5/2018) menanggapi data neraca pembayaran dari BPS.

BPS menyebutkan peningkatan nilai impor, namun tidak diimbangi dengan kinerja ekspor. Hal ini mengakibatkan neraca perdagangan dalam negeri pada bulan April mengalami defisit sebesar US$1,63 miliar.

Penyebabnya adalah karena nilai impor April mengalami kenaikan sebesar US$16,09 miliar atau 11,28 persen bila dibandingkan dengan Maret. Sedangkan ekspor malah mengalami penurunan, yakni US$14,47 miliar atau menurun 7,19 persen dibanding Maret.

Darmin melanjutkan, tingginya permintaan bahan baku infrastruktur lantaran proyek yang sudah jalan beberapa tahun lalu saat ini sedang proses penyelesaian. Bahkan bahan baku yang diperlukan pun cukup banyak.

"Jangan lupa, barang modal dan barang baku, dalam impor kita itu 91 persen. Barang konsumsi cuma 9 persen," ujat Darmin.

Darmin mengatakan, banyaknya impor bahan baku karena hampir semua bahan baku itu tak tersedia di dalam negeri. Menurut dia, bila bahan baku tidak diimpor, maka proyek infrastruktur akan mandek dan membuat investasi juga macet.

Dia mengatakan, kedepannya yang harus dilakukan adalah membuat ekspor dalam negeri bergairah atau naik. Dengan begitu, defisit neraca perdagangan akan tertekan. Bukan menekan impor yang malah akan berdampak pada proyek di dalam negeri.

Dengan demikian, klaim dia, defisit neraca perdagangan kali ini masih menunjukan tren positif terhadap ekonomi Indonesia.

"Dari sisi perlembangan ekonomi artinya positif. Kenap positif, karena investasi berjalan, baik invetasi swasta, maupun investasi dalam bentuk bangunan infrastruktur," kata dia. [hid]

Komentar

 
x